宇宙海賊の日記

May 15, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: For You I Will

Filed under: fanfic — Tags: , , , , , — uchuukaizoku @ 02:10

Title: For You I Will
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don Dogoier
Timeline: between episode 12 and 13
Rating: PG-13

Malam perlahan-lahan menyelubungi bumi dengan tabir gelapnya. Makan malam telah dihidangkan di Gokai Galleon. Don baru saja akan bergabung dengan rekan-rekannya ketika sesuatu terlintas di benaknya. Ia cepat-cepat melepaskan celemek yang dikenakannya dan kemudian menggantungnya di gantungan yang terpasang pada dinding dapur. Pada saat itu, Ahim berjalan masuk ke dapur dengan membawa sebuah nampan kosong.

“Hakase-san, kamu mau keluar malam-malam begini?” tanyanya ketika ia melihat Don berjalan ke arah lain dan bukannya ke arah ruang makan.

“Ada yang harus kulakukan sekarang” kata Don. Raut wajahnya terlihat sedikit cemas dan gelisah.

“Sesuatu yang tidak bisa ditunda sampai besok pagi?” tanya Ahim lagi.

Don tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

“Makan saja duluan” kata Don. “Aku pasti kembali nanti.”

Tanpa menunggu kata-kata lainnya meluncur keluar dari mulut Ahim, Don menghilang dari dapur.

“Mana Hakase?” tanya Captain Marvelous pada saat Ahim kembali ke ruang makan. Ia sedang asyik mengunyah daging babi yang tadi sudah dimasak Don begitu mereka kembali ke Gokai Galleon.

“Dia… Hakase-san sedang keluar sebentar” jawab Ahim. “Tapi dia bilang kalau dia akan kembali nanti.”

“Dia malah keluar seorang diri pada saat kita semua sedang berkumpul untuk merayakan kembalinya Joe?” tanya Luka. “Benar-benar tidak bisa dipercaya.”

“Ah, ini tidak bisa disebut perayaan” ujar Joe. “Aku toh hanya menghilang – dalam tanda kutip, tentunya – selama kurang dari 24 jam.”

“Kalau begitu, sisakan bagiannya untuk makan malam.”

Kata-kata Marvelous itu serta-merta membuat tiga pasang mata – ah, empat pasang, kalau Navi ikut dihitung – tertuju ke arahnya. Tidak biasanya Marvelous bermurah hati dalam urusan makanan. Nafsu makannya luar biasa besar, terutama setelah ia selesai bertarung menghadapi musuh yang kuat. Dan musuh yang baru saja mereka kalahkan hari ini adalah musuh yang sangat kuat dan merepotkan. Jadi, rasanya aneh kalau dalam kondisi (yang bisa dipastikan) lapar berat, Marvelous malah ingat untuk menyisakan makanan bagi krunya.

“Tidak biasanya Marvelous begitu murah hati” sindir Luka. Joe tersenyum mendengar sindiran Luka itu.

Ahim cepat-cepat menyisihkan makanan untuk Don. Setelah ia memastikan Don mendapatkan jatah yang cukup, ia membawa piring yang penuh berisi daging dan sayuran ke dapur.

***

Sementara itu, Don berjalan seorang diri di bawah langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Udara malam itu terasa cukup sejuk karena hembusan angin yang lumayan kencang. Ia melihat ke kanan dan kiri jalan, seperti sedang berusaha menemukan sesuatu. Berulang kali ia berhenti untuk menanyakan jalan kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya.

Akhirnya, ia berdiri di depan sebuah rumah yang pagarnya – ah, mungkin lebih tepat disebut dinding – terbuat dari kayu berwarna coklat dan kelihatan sudah tua. Sebuah papan nama tergantung di dekat pintu masuk rumah tersebut: “Shiba”. Ia menghela nafas sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

Ia berdiri dalam keheningan malam – kebetulan kediaman keluarga Shiba terletak di sebuah tempat yang jauh dari keramaian jalan raya – selama beberapa detik sebelum seorang Kuroko yang berpakaian serba hitam membukakan pintu.

“Saya… saya ingin bertemu dengan Nona Shiba Kaoru” ucapnya.

Kuroko tersebut diam sejenak sebelum mempersilahkannya masuk. Don melangkah masuk ke dalam pekarangan kediaman keluarga Shiba yang luas dan terawat. Ia berjalan melewati berbagai rumpun perdu dan tanaman bambu yang menjulang tinggi serta sebuah kolam yang dipenuhi ikan koi.

Kuroko lainnya menyambut ia di pintu masuk rumah. Setelah melepas sepatunya, ia mengikuti langkah-langkah cepat Kuroko itu. Ia diminta untuk menunggu di sebuah ruangan – yang menurutnya adalah ruang tamu – oleh Kuroko itu. Ruangan tersebut tidak terlalu terang. Dindingnya dipenuhi oleh lukisan beraneka warna yang menarik perhatian Don. Di salah satu sudut ruangan tampak sebuah baju zirah kuno yang terbuat dari besi.

“Maaf sudah membuat Anda menunggu.” Sebuah suara lembut namun tegas menyapanya.

Shiba Kaoru muncul dari balik sebuah pintu dorong. Tanba Toshizou mengikutinya dari belakang. Kaoru lalu duduk di sebuah tempat yang lebih tinggi dari tempat di sekelilingnya.

“Selamat malam, Nona Shiba” ucap Don.

“Anda kan…” Kaoru diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Salah satu dari lima orang bajak laut ruang angkasa itu.”

“Nama saya Don. Don Dogoier. Satu dari lima orang bajak laut ruang angkasa yang datang ke bumi, seperti kata Anda.”

“Apa maksud kedatangan Anda ke sini?” tanya Kaoru. “Apakah ada hal yang bisa saya bantu?”

Don menarik nafas panjang sebelum ia mengutarakan alasannya datang ke kediaman keluarga Shiba. Kaoru dan Tanba menyimak kata-katanya dengan wajah serius. Ketika Don telah menyelesaikan kata-katanya, seulas senyum tergambar di wajah cantik Kaoru.

“Tanba, tolong siapkan apa yang diminta oleh Don. Berikan dalam jumlah yang cukup untuk seminggu” serunya pada Tanba. Setelah Kaoru selesai mengucapkan perintahnya, Tanba pun pergi entah kemana.

Kaoru dan Don sama-sama diam. Suara lembut Kaoru yang akhirnya memecahkan keheningan.

“Kau tentunya sangat memperhatikan dia sampai kau rela datang ke sini seorang diri” kata Kaoru. “Chiaki pasti akan melakukan hal yang sama seandainya Takeru yang terluka.”

“Chiaki? Takeru?”

“Takeru adalah anakku. Ia kepala keluarga Shiba generasi ke-19. Chiaki… Tani Chiaki adalah salah satu abdinya” ujar Kaoru.

“Anda… Anda sudah punya anak?” tanya Don dengan raut wajah tak percaya. “Anda masih begitu muda…”

“Takeru bukan anak kandungku. Usianya bahkan lebih tua dibandingkan aku. Dia adalah anak angkatku.”

“Anak angkat?”

“Untuk menjadikan Takeru sebagai keturunan resmi keluarga Shiba, aku mengangkatnya sebagai anak dan sekaligus kepala keluarga Shiba generasi ke-19. Sebelumnya, ia hanyalah seorang kagemusha…”

Kagemusha?” Don kembali membeo.

“Ceritanya panjang. Kau tertarik untuk mengetahuinya? Kapan-kapan, datanglah ke sini untuk mendengar ceritanya” kata Kaoru. “Mungkin kau juga akan berkesempatan untuk bertemu dengan Takeru dan Chiaki.”

Sebuah tawaran yang kedengaran menyenangkan. Dengan penuh semangat, Don menganggukkan kepalanya. Pada saat itu, Tanba muncul dengan membawa sebuah kotak. Ia menyerahkan kotak tersebut kepada Kaoru. Gadis itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan menyerahkan kotak tersebut kepada Don.

“Kalau sudah habis, jangan sungkan-sungkan untuk datang ke sini lagi” ucapnya ketika ia mengantar Don ke pintu depan. Ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Don.

“Terima kasih” ujar Don sambil membalas jabatan tangan Kaoru. “Saya benar-benar berterima kasih sekali…”

Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai tanda hormat dan terima kasih. Ia dan Kaoru saling tersenyum satu sama lain. Setelah itu, Kaoru memerintahkan seorang Kuroko untuk mengantarkan Don ke pintu gerbang.

“Terima kasih, Kuroko-san” kata Don dengan nada riang. Langkah-langkahnya terasa sangat ringan sekarang.

***

Hampir semua lampu di Gokai Galleon sudah dipadamkan ketika Don pulang. Jam di tangan Don sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Dari mana saja kau, Hakase?” Suara Marvelous. Suara tersebut mengagetkannya. Ia nyaris menjatuhkan kotak kayu yang dibawanya. Marvelous rupanya sedang duduk di ‘kursi kebesaran’-nya di balik tirai gelap malam. Navi tidak tampak di sana. Mungkin malam ini ia tidur di kamar Luka atau Ahim.

“Aku… aku…”

Marvelous berdiri dari tempat duduknya. Ia memandang Don dengan sepasang matanya yang tajam. Tatapan matanya membuat lutut Don terasa lemas seketika.

Kalimat berikutnya membuat Don lebih terkejut lagi. “Kau pasti belum makan. Makanlah dulu. Ahim sudah menyimpan bagian makan malammu di dapur.”

Saking terkejutnya, mulutnya membulat membentuk huruf O besar. Ia – seperti halnya Joe, Luka, dan Ahim – sama sekali tidak menduga kalau Marvelous akan berkata seperti itu.

Marvelous menghempaskan diri ke kursinya lagi. Jaraknya dari Don hanya beberapa langkah saja. Don bisa merasakan nafas Marvelous yang berat. Sepertinya ia masih berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya.

Don berjalan pelan-pelan mendekati Marvelous. Setelah ia berdiri di samping tempat duduk Marvelous, ia pun meraih tangan Marvelous dan menggenggamnya erat-erat. Ia lalu meraih sapu tangan yang ada di dalam sakunya dan menggunakannya untuk menyeka butiran-butiran keringat yang menghiasi dahi Marvelous.

“Lukanya masih terasa sakit ya?” tanyanya dengan nada cemas.

Marvelous tidak menjawab pertanyaan itu. Tentu saja, itu pertanyaan bodoh.

“Terima kasih…” ucap Marvelous. Suaranya pelan, jauh lebih pelan daripada biasanya. Ucapan tersebut tak urung membuat Don heran.

“Eh, untuk apa?”

“Kau yang mengompres dahiku subuh tadi kan? Aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu.”

Don ingat apa yang terjadi beberapa belas jam yang lalu. Waktu itu, hari masih subuh. Matahari masih bersembunyi di balik tirai malam. Ia terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak – siapa yang bisa tidur nyenyak dengan cara duduk di atas lantai dan bersandarkan pada kaki kursi yang terbuat dari kayu? – dan merasakan nyeri yang menusuk-nusuk tubuhnya. Ketika ia bangkit dari tempat duduk (dan sekaligus tidur) yang tidak nyaman itu, ia melihat Luka, Ahim, serta Kaoru dan Tanba yang tertidur. Pada waktu itulah, ia melihat raut wajah Marvelous yang sedang menahan sakit di dalam tidurnya. Ia memberanikan diri untuk menyentuh dahi Marvelous dan merasakan panas yang membara. Demam. Ia melangkah terburu-buru ke dapur untuk membasahi sehelai kain untuk mengompres dahi Marvelous. Ia tidak menduga kalau Marvelous akan mengetahui hal tersebut.

“Bagaimana kau tahu kalau itu aku?” tanyanya dengan suara tertahan.

“Perasaanku mengatakan begitu” jawab Marvelous. Ia menyeringai sambil menahan sakit.

“Ba… bagaimana kalau perbanmu kuganti sekarang?” tanya Don. Ia buru-buru memalingkan wajahnya. Seringai Marvelous tadi membuat wajahnya terlihat luar biasa tampan. Jantungnya dibuat berdetak luar biasa kencang hanya karena melihat seringai Marvelous.

“Memangnya kau punya obat untuk mengobati luka ini?”

“Aku… tadi aku pergi ke tempat Nona Shiba Kaoru untuk meminta tambahan obat.”

Marvelous terkejut mendengar ucapan Don tersebut. Dalam keadaan normal, ia tentu akan langsung meledak mendengar ucapan seperti itu. Akan tetapi, entah kenapa, kali ini ia hanya diam saja. Beberapa detik kemudian, ia kembali menyeringai. Untung saja Don masih belum melihat ke arahnya. Don pasti akan pingsan di tempat kalau sampai melihat seringai itu.

“Karena kau mau berepot-repot menggantikan perbanku, tentunya kau juga tidak akan keberatan kalau aku meminta bantuanmu untuk hal yang lain kan?”

Ucapan tersebut membuat Don langsung meletakkan kembali wajahnya di depan wajah Marvelous.

“Mak… maksudmu?”

“Badanku terasa kotor dan lengket setelah bertarung habis-habisan tadi. Bagaimana kalau kau membantu aku untuk mandi?”

Marvelous mengucapkannya dengan tenang. Bagi Don, permintaan tersebut memiliki efek yang nyaris sama dahsyatnya seperti ledakan bom atom. Ia terperangah dan lagi-lagi mulutnya membulat membentuk huruf O.

“Toh ini juga bukan pertama kalinya kita mandi bersama kan?” tanya Marvelous. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Don. “Ayo, aku butuh bantuanmu sekarang.”

Khas Marvelous. Dominan, spontan, dan tak ingin ditolak dengan alasan apapun. Jadi, Don tidak sempat menyiapkan alasan apapun. Ia terpaksa membiarkan Marvelous menarik dirinya ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, ia hanya berdiri mematung sementara Marvelous melepaskan seluruh pakaiannya.

“Siapa yang menyuruhmu berdiri mematung seperti itu di sana?” sergah Marvelous sambil tertawa. “Bantu aku melepaskan perban ini, Hakase.”

Don melangkah maju pelan-pelan dan melepaskan belitan perban yang meliliti punggung Marvelous dengan gerakan yang amat canggung. Rasanya berabad-abad telah berlalu sementara ia melepaskan perban putih tersebut. Ketika perban tersebut telah terlepas seluruhnya, ia melihat pemandangan yang mengerikan terpampang di depannya. Tenggorokannya tercekat. Perlahan-lahan, ia menyentuh bekas luka yang masih segar tersebut dengan jari-jarinya.

Seandainya bisa, ia ingin merasakan separuh rasa sakit yang diderita Marvelous itu. Kalau separuh tidak cukup, ia rela merasakan seluruh rasa sakit tersebut. Kalau untuk Marvelous, ia rela melakukan apa saja… apa saja termasuk mengikat kontrak dengan iblis sekalipun.

Marvelous berdiri membelakangi dirinya. Nafasnya berat dan ia sama sekali tidak bergerak. Don memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. Gerakannya begitu lembut dan pelan.

“Seandainya aku bisa merasakan separuh dari rasa sakit yang kau rasakan, Marvelous…” bisiknya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Karena ia menempelkan wajahnya di punggung Marvelous, beberapa detik kemudian punggung Marvelous mulai dibasahi oleh air mata Don.

Marvelous memegang tangan kanan Don yang melingkari pinggangnya dan membawa tangan tersebut ke wajahnya. Ia mencium tangan tersebut. Keduanya berdiri dalam posisi itu selama beberapa menit, saling merasakan kehadiran masing-masing jauh di dalam jiwa. Mereka tak butuh kata-kata lagi untuk mengungkapkan isi hati masing-masing.

Pelan-pelan Don melepaskan pelukannya. Ia menyuruh Marvelous duduk di atas kloset sementara ia menyiapkan air panas. Setelah air panas memenuhi bak, Marvelous membersihkan sendiri beberapa bagian tubuhnya sementara Don mencari selembar kain untuk mengelap bagian dada dan punggung Marvelous. Dengan hati-hati, ia membersihkan punggung Marvelous. Terakhir, ia membantu Marvelous mencuci rambutnya.

Hari sudah benar-benar larut ketika Don selesai membersihkan tubuh Marvelous dan mengobati lukanya dengan obat dari Kaoru. Tenaganya benar-benar terkuras habis. Meski demikian, ia masih membantu Marvelous untuk mengenakan pakaian tidurnya.

Setelah memastikan Marvelous telah berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya, ia baru mandi. Ia sudah benar-benar lupa dengan makan malamnya.

Marvelous sedang menyandarkan diri pada sebuah bantal ketika Don masuk ke kamarnya dengan membawa obat pereda rasa sakit dan segelas air putih.

Don duduk di samping tempat tidur dan membantu Marvelous untuk meminum obat itu. Ketika ia hendak bangkit dari tempat duduknya itu, Marvelous menarik tangannya sampai ia terduduk lagi. Keduanya duduk berhadap-hadapan. Marvelous lalu mengulurkan tangannya untuk menarik wajah Don agar mendekat ke arahnya. Bibir keduanya bertemu dalam sebuah ciuman lembut. Jari-jari keduanya bertautan.

“Terima kasih, Hakase” bisik Marvelous di telinga Don ketika mereka selesai berciuman. “Terima kasih.”

Don menggelengkan kepalanya. “Bukankah itu sudah seharusnya kulakukan? Untuk dirimu, aku siap melakukan apapun. Bahkan kalau aku harus kehilangan…”

Marvelous menghentikan ucapan Don dengan meletakkan jarinya di bibir Don. Ia tahu apa yang akan dikatakan Don dan ia tidak ingin membayangkan hal tersebut. Ia menarik kepala Don dan membaringkan kepala berambut keemasan itu di dadanya.

“Tidurlah di sini malam ini, Hakase. Hal pertama yang ingin kulihat ketika aku bangun nanti adalah senyumanmu.”

Don tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ketika akhirnya lampu dimatikan dan Marvelous telah terlelap, ia memandangi wajah Marvelous dan berbisik di dalam hatinya.

Aku akan mengarungi tujuh samudera untuk dirimu. Aku akan menjadi kekuatanmu bahkan ketika kau tidak membutuhkan diriku. Aku berjanji kalau aku akan menjadi apapun bagi dirimu… karena aku mencintaimu.

Ia membiarkan kata-kata tersebut berkumandang di dalam dirinya sampai akhirnya ia tertidur di sisi Marvelous. Satu hari telah berakhir, namun selalu ada hari esok yang menanti mereka berdua. Ia tak tahu apa yang akan diberikan hari esok kepada dirinya, tapi ia selalu siap menghadapi semuanya asalkan ada Marvelous di sisinya. Itu sudah lebih dari cukup.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: