宇宙海賊の日記

June 8, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Kini naru Aitsu ver. Marvelous

Title: 気になるアイツ ver. Marvelous
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Timeline: between episode 15 and 16
Rating: G to PG-12

Marvelous berjalan perlahan-lahan memasuki ruang navigasi Gokai Galleon. Ia terpaksa menggigit bibirnya beberapa kali untuk menahan rasa nyeri dan sakit yang menusuk-nusuk tubuhnya.

Dasar Basco sialan, makinya dalam hati. Aku akan membuatmu membayar rasa sakit ini berkali-kali lipat suatu hari nanti.

Tanpa suara-suara berisik yang biasa menghiasi ruang navigasi Galleon yang menyatu dengan ruang duduk dan ruang makan itu, tempat itu terasa begitu sunyi dan mati. Setelah sekian lama, baru kali inilah Marvelous merasakan betapa dingin dan sepinya Galleon tanpa kehadiran Joe, Luka, Don, dan Ahim. Sebelum ia mengarungi antariksa dengan keempat orang itu, ia pernah melakukan perjalanan seorang diri dengan Galleon (dengan hanya ditemani Navi saja). Tapi itu sudah lama sekali… dan kini ia sudah benar-benar terbiasa dengan kehebohan dan keributan yang mengisi hari-hari di Galleon.

Ia tidak menduga kalau Basco ternyata sejak awal sudah mengincar keempat rekannya. Seperti biasa, Basco selalu berpikiran selangkah lebih maju dibandingkan dirinya. Sebenarnya ia berniat menyumpah-nyumpahi Basco dengan segala macam sumpah-serapah kasar yang dipelajarinya di berbagai planet yang pernah disinggahinya selama ini, tapi tentu saja itu tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Tentunya menonjok wajah Basco dengan kepalannya akan terasa lebih memuaskan daripada hanya memaki-makinya di Galleon. Siapa yang bakal mendengar makiannya? Hanya Navi.

Navi sibuk terbang mengelilingi ruangan tersebut dengan panik sambil terus mengoceh.

“DIAMLAH, burung!” hardiknya dengan kasar. Suara Navi membuat pikirannya bertambah kalut. Navi memang diam setelah dihardik seperti itu, tapi ia tahu kalau dalam waktu setengah jam saja Navi akan kembali terbang dan berceloteh panik lagi seakan ia tidak pernah dihardik. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengambil sehelai kain dan mengikat paruh Navi kuat-kuat agar ia tidak mengoceh lagi, tapi itu jelas bukan hal yang harus ia jadikan prioritas.

Ia menghempaskan diri ke atas kursinya dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi itu. Ia mencoba memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit yang masih betah menyiksanya. Begitu ia memejamkan matanya, otaknya langsung memutar ulang ingatan tentang apa yang terjadi sebelum Basco membawa pergi keempat rekannya dengan pesawat merahnya. Adegan-adegan mengerikan berkelebat dalam benaknya bagaikan tayangan film horor.

Dengan mata kepala sendiri, ia melihat bagaimana delapan Ranger Key – yang entah diperoleh Basco dari mana – menghajar rekan-rekannya tanpa ampun. Joe… Luka… Ahim… dan Don. Ia tahu, ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Joe dan Luka. Keduanya sudah benar-benar terlatih untuk menghadapi situasi yang serba gawat. Ahim mungkin sedikit lebih lemah dibandingkan mereka berdua, tapi ia juga yakin kalau mantan puteri dari planet de Famille itu akan baik-baik saja. Tapi Don… astaga, yang satu itu yang benar-benar mengkhawatirkan. Ia yang paling lemah di antara mereka berlima. Apa yang akan terjadi pada dirinya di tempat Basco? Ia berusaha mencegah dirinya untuk membayangkan hal-hal terburuk yang mungkin terjadi pada keempatnya, terutama Don. Kalau Basco sampai berani berbuat macam-macam pada Don, ia siap untuk mencabut nyawa si pengkhianat itu dengan tangannya sendiri.

Rasanya benar-benar menyakitkan ketika melihat pasukan Basco menghajar mereka dan kemudian membawa pergi semuanya hanya dalam sekejap mata saja. Tentu saja, yang paling menyakitkan adalah ketika ia melihat Don dihajar. Setiap orang tentu akan merasakan hal yang sama ketika melihat orang yang paling dicintainya dihajar tanpa ampun seperti itu kan?

Perasaannya bertambah kalut ketika ia memikirkan apa yang telah ia lakukan pada Don dalam waktu 2 hari itu. Don mungkin sedikit terlalu polos dan cerewet dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tidak penting, tapi tidak sepantasnya ia mendorong Don dengan kasar. Ia masih ingat sorot mata Don yang terluka setelah itu, tapi emosi masih menguasai dirinya sehingga ia tidak meminta maaf secara langsung. Segala hal yang berhubungan dengan Basco memang selalu menyulut emosinya sampai ke titik maksimal. Ketika menghidangkan makan malam tadi malam pun, Don hanya menundukkan kepalanya. Kalau biasanya ia berceloteh riang dengan Ahim dan Luka, tadi malam ia hanya diam saja. Ia cepat-cepat menyelesaikan makan malamnya dan kembali ke dapur tanpa sekalipun menoleh ke arah Marvelous.

Ketika ia muncul di hadapan Marvelous dan Basco sambil menirukan gerakan seekor monyet pun, ia sebenarnya sedang memendam kesedihannya. Ia mencoba tersenyum di depan yang lainnya tapi Marvelous tahu kalau Don mati-matian bersikap ceria. Kalau tidak ada orang lain di sekitarnya, ia tahu ekspresi seperti apa yang akan dikenakan Don di wajahnya.

Ia benar-benar berharap Don akan baik-baik saja di sana. Kalau Basco sampai tahu apa hubungan Don dengan dirinya, ia yakin Basco akan berusaha untuk menyakiti Don. Basco, yang dulu pernah membuang rekan-rekannya, tentu tidak akan segan-segan melakukan segala cara untuk menghancurkan ia dan Don.

Ia kembali memejamkan matanya, mencoba membayangkan ekspresi ceria Don yang (hampir) selalu berhasil membangkitkan semangatnya. Don yang selalu siap melakukan apa saja demi dirinya. Don yang selalu menomorsatukan dirinya dan menempatkan dirinya di prioritas yang terakhir. Ia ingin terus melihat senyuman itu di Galleon. Senyuman itu adalah nyawa Galleon. Si pirang konyol itu mungkin tidak pernah sadar kalau posisinya tak tergantikan di Galleon. Ia menyukai semua yang ada di Galleon, tapi ia mencintai Don lebih dari ia menyukai Joe, Luka, Ahim, dan Navi. Don adalah salah satu alasan kenapa ia ingin terus hidup. Karena ia ingin terus berada di sisi Don sampai kapanpun.

Marvelous bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah panel navigasi. Ia mulai mencoba mencari lokasi pesawat merah milik Basco.

Aku akan merebut kembali semuanya, ucapnya di dalam hati. Joe, Luka, Ahim, dan Don. Kalau semua sudah kembali nanti, aku akan meminta maaf pada Don. Si bodoh itu mungkin akan ngambek selama seminggu penuh kalau masalah sudah selesai, tapi aku tak peduli. Aku membutuhkan dirinya dan aku tak akan melepaskannya. Karena si bodoh itulah orang yang terpenting di dalam hidupku.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: