宇宙海賊の日記

June 9, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Kini naru Aitsu ver. Don

Title: 気になるアイツ ver. Don
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Timeline: episode 16
Rating: G to PG-12

Untuk kedua kalinya dalam waktu dua jam – atau malah satu jam? – mereka berempat kembali dijebloskan ke dalam sel yang berwarna dominan abu-abu itu. Sel itu dingin dan suram, tapi setidaknya masih tempat itu masih punya penerangan yang cukup memadai. Raut wajah Joe merah padam karena menahan kekesalannya yang masih menggelegak bagaikan magma yang siap dimuntahkan ke permukaan bumi dan Luka melontarkan segala macam makian dalam berbagai bahasa yang diketahuinya. Di lain pihak, Ahim duduk kecapekan di sudut sel.

Benar-benar upaya pelarian yang sia-sia, batin Don. Ia duduk bersandar di tembok besi yang dingin dan tebal.

Mereka tiga kali mencoba untuk kabur dari Basco dan ketiga upaya tersebut gagal. Upaya pertama dilakukan oleh Luka sebelum mereka dikurung di dalam sel. Seperti biasa, Luka mencoba untuk memanipulasi Basco dengan berkata kalau ia rela membuang Marvelous dan semua rekannya asalkan ia bisa selamat. Akting Luka, harus diakui, memang jempolan. Sayangnya, Basco bukan tipe orang yang bisa percaya pada orang lain begitu saja. Upaya Luka mentah dalam sekejap mata.
Upaya kedua adalah upaya yang dipelopori dirinya. Ia mencoba untuk bersahabat dengan Sally, si monyet robotik yang bertampang sama menyebalkannya seperti sang pemilik, namun yang didapatnya hanyalah pisang. Masih bagus kalau Sally memberikan pisang utuh kepadanya. Si monyet brengsek itu malah dengan sengaja ‘mengolesi’ wajahnya dengan pisang yang baru separuh dimakannya. Untung saja mereka berada di dalam sel dan sedang berusaha untuk mencari jalan untuk kabur. Dalam kondisi normal, ia pasti akan jadi bahan tertawaan lagi.
Upaya ketiga dari Joe adalah meloloskan diri melalui lubang ventilasi yang hanya bisa dilewati oleh seorang pria dewasa saja. Terpaksa mereka beriringan melewati lubang ventilasi yang sempit itu dengan susah payah karena tangan mereka dirantai ke belakang dengan rantai besi. Berulang kali kaki luka menghantam wajahnya pada saat mereka beringsut maju perlahan-lahan di lubang tersebut. Dan apa yang menanti mereka ketika mereka mengira mereka sudah berhasil lolos dari sel? Basco!

Tubuhnya terasa sangat nyeri. Sedari tadi Don mencoba untuk membebaskan diri dari belitan rantai di tangan dan tubuhnya. Hasilnya, tentu saja, hanyalah sakit yang semakin mendera tubuhnya. Itu belum termasuk rasa sakit yang muncul setelah mereka mencoba membebaskan diri lewat ventilasi sempit itu. Tapi yang paling menyakitkan adalah pukulan dan tendangan yang diterimanya dari para Ranger Key yang digunakan oleh Basco. Beberapa bagian tubuhnya pasti memar karena pukulan dan tendangan bertubi-tubi tersebut.

Akan tetapi, rasanya jauh lebih menyakitkan ketika ia melihat Marvelous terkena serangan yang dilepaskan oleh dua Ranger Key yang mengeroyoknya. Seandainya saja tidak ada Ranger Key yang memegangi tubuhnya waktu itu, ia pasti sudah berlari ke arah Marvelous untuk melindunginya. Ia tidak peduli apa yang mungkin terjadi seandainya ia melakukan tindakan nekad itu. Biasanya ia memang penakut dan tidak bisa diandalkan dalam berbagai kondisi darurat. Tapi kalau nyawa Marvelous sudah berada di ujung tanduk, ia siap melakukan apa saja yang bisa ia lakukan tanpa memikirkan konsekuensinya. Tanpa berubah wujud, menerima serangan yang dilepaskan dua Ranger Key tersebut sama artinya dengan menjemput kematian dengan tangan terbuka.

Sialan, kenapa aku jadi berpikir tentang Marvelous sekarang?, ia memaki dirinya sendiri. Aku seharusnya mencari jalan untuk melepaskan diri dari sini bersama yang lainnya, bukannya berpikir yang tidak-tidak.

Tapi ia tidak bisa berhenti memikirkan Marvelous. Apa yang sedang dilakukan Marvelous sekarang? Apakah Marvelous akan datang untuk membebaskan mereka? Ia tentunya tidak akan membuang mereka begitu saja kan? Jujur, kata-kata Basco sempat membuatnya merasa takut.

Mungkin saja ia benar-benar akan membuangku, pikirnya. Tanpa disadarinya, air matanya meleleh. Apa yang terjadi kemarin di Gokai Galleon membuatnya takut. Ia memang tidak bermaksud memancing kemarahan Marvelous dengan pertanyaan tentang siapa Basco sebenarnya. Tapi reaksi Marvelous di luar dugaan. Di saat ia sedang benar-benar marah pun, Marvelous jarang menunjukkan emosinya secara frontal dan terang-terangan. Terkadang ia malah tersenyum untuk menutupi kemarahannya. Reaksi yang ditunjukkan Marvelous kemarin sangat berbeda. Ketika ia berdiri diam di depan Don selama satu detik saja, ia bisa merasakan amarah dan ketegangan yang begitu dahsyat. Detik berikutnya, Marvelous langsung mendorongnya kuat-kuat.

Itu bukan kali pertama bagi Don untuk menghadapi kemarahan Marvelous. Tapi apa yang terjadi kemarin benar-benar di luar kebiasaan. Untuk pertama kalinya, Don benar-benar merasa takut pada Marvelous. Itulah sebabnya kenapa ia lebih banyak diam sepanjang sisa hari kemarin, terutama ketika Marvelous ada di sekitarnya. Ia mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan Joe, Luka, dan Ahim meski sebenarnya hatinya terluka. Tak ada gunanya menunjukkan hal-hal yang tidak perlu kepada orang-orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya.

Seandainya ia bisa memutar kembali waktu, ia pasti akan menghentikan dirinya yang kemarin untuk melontarkan pertanyaan yang menyulut emosi Marvelous. Ia benar-benar tidak ingin dibenci Marvelous karena pertanyaan itu. Seisi dunia boleh saja memusuhinya asalkan ia masih punya tempat di Galleon. Galleon adalah rumah baginya. Kehilangan tempat di Galleon (dan hidup Marvelous) sama artinya dengan kehilangan seluruh hidupnya.

“Kau menangis, Hakase-san?” tanya Ahim. Pertanyaan itu mengejutkannya. Tapi ia tidak bisa menghapus air mata tersebut karena tangannya dirantai ke belakang.

“Ti… tidak. Mataku kemasukan debu” kilahnya.

“Apa perlu kutiupkan debu itu dari matamu?” tanya Ahim lagi.

“Biar aku saja” kata Luka. Gadis itu berjongkok di hadapannya, bersiap-siap untuk meniup debu yang sesungguhnya tak ada di sana.

“Tidak usah” tolaknya. “Tidak apa-apa kok.”

Luka mengangkat bahunya. Ia lalu duduk di samping Don. Mungkin ia sudah capek memaki-maki Basco. Joe sendiri sudah duduk tenang di dekat lubang ventilasi yang kini sudah disegel oleh Basco.

“Menurutmu, apakah ia akan membuang kita?” tanya Don pada Luka. Pertanyaan tersebut meluncur keluar begitu saja dari mulutnya.

“Siapa? Marvelous?”

“Kau tahu siapa yang kumaksud” gerutunya. “Memangnya siapa kapten kita? Basco ta Jolokia?”

“Dia pasti akan datang untuk menyelamatkan kita” ucap Luka. Ia mencoba untuk mengucapkannya dengan penuh keyakinan namun Don bisa menangkap kekhawatiran yang tersirat di dalam suaranya.

Don hanya menarik nafas saja sebagai tanggapannya. Entah kenapa, jawaban Luka membuatnya merasa semakin ragu dan takut.

Bukan Luka namanya kalau tidak dengan cepat menangkap keraguan Don. Ia langsung menginjak kaki Don kuat-kuat dan kemudian tersenyum.

“Tenang saja, pasti datang kok” bisiknya sambil mengedipkan sebelah mata sementara Don meringis menahan rasa sakit gara-gara injakan kaki Luka yang tidak tanggung-tanggung itu.

“Marvelous pasti tidak akan membuang kita begitu saja… terutama dirimu.”

Bagian terakhir itu diucapkannya dengan sangat lirih, sampai-sampai Don tidak yakin kalau Luka yang mengucapkannya. Suara tersebut terdengar sangat jauh.

Meski demikian, ia merasa lebih tenang setelah mendengar kata-kata Luka. Mungkin Luka hanya memberikan sebuah ilusi saja, tapi setidaknya itu cukup untuk membuatnya merasa lebih tenang.

Don memejamkan matanya, membayangkan senyuman Marvelous yang penuh dengan rasa percaya diri. Ia baru berpisah sebentar dengan Marvelous tapi ia sudah begitu merindukan pria yang lebih tua itu. Ia menghabiskan setiap detik dalam hidupnya untuk mencintai Marvelous dan ia merasa bahagia karena ia diberikan kesempatan untuk terus berada di sisi Marvelous. Di saat-saat seperti ini, perasaan tersebut terasa begitu meluap-luap. Seumur hidupnya, ia tidak pernah mencintai orang lain dengan cara seperti ini. Marvelous bukan cinta pertamanya, tapi apa yang dirasakannya ketika jatuh cinta pada Marvelous jauh lebih kuat daripada cinta pertamanya. Karena itulah, ia tidak bisa berhenti memikirkan Marvelous. Marvelous mengisi hari-harinya dengan begitu banyak hal berharga yang tak terlupakan, karena itulah ia selalu memikirkan pria itu setiap hari.

Ahim beringsut mendekat dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada tubuh Don. Di sebelahnya, Luka menganggukkan kepalanya.

“Marvelous-san pasti akan datang” bisik Ahim.

Ya, ia pasti akan datang. Ia tidak akan membuang kami di sini. Kami adalah bagian dari mimpinya yang tidak mungkin ia lepaskan begitu saja.

Perasaan tenang mulai merayapi dirinya. Ia tahu, masih ada hari esok bagi mereka semua. Mereka akan pulang lagi ke Galleon dan berkumpul bersama Marvelous dan Navi. Asalkan ada jaminan kalau mereka akan kembali, ia bisa menghadapi apapun yang diberikan oleh hidup.

Aku mencintaimu, Marvelous. Dan aku akan menunggumu di sini…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: