宇宙海賊の日記

June 10, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: The Meaning of Us

Filed under: fanfic — Tags: , , , , — uchuukaizoku @ 01:43

Title: The Meaning of Us
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Rating: PG-13

15 Ranger Key baru. Marvelous tidak henti-hentinya memandangi benda-benda yang berhasil mereka peroleh hari itu. Benar-benar tangkapan besar. Selain berhasil merebut kembali rekan-rekannya dari Basco, ia juga memperoleh 15 Ranger Key yang sebelumnya tidak ia ketahui keberadaannya. Selama ini ia menduga kalau Ranger Key yang diserahkan oleh Aka Red kepadanya sudah lengkap, tapi rupanya masih ada Ranger Key lain di tangan Basco.

Benda-benda berwarna-warni tersebut berserakan di atas meja. Marvelous memandangi mereka sekali lagi dan setelah itu memasukkan ke-15 Ranger Key ke dalam kotak yang dipenuhi Ranger Key. Ia kemudian meletakkan kotak itu di tempat yang biasanya, di samping tempat duduknya.

Lampu-lampu di ruang makan dan dapur sudah dimatikan sejak tadi. Hanya lampu di ruang duduk dan ruang navigasi saja yang masih menyala. Marvelous menguap dan memutuskan kalau sudah saatnya untuk tidur. Ia mematikan lampu di kedua ruangan tersebut.

Ia berjalan melewati kamar Don dalam perjalanan menuju ke kamar tidurnya. Ia bisa melihat lampu kamar Don yang masih menyala dari celah di bawah pintu.

Dia belum tidur rupanya.

Tiba-tiba Marvelous ingat kalau ia belum meminta maaf kepada Don atas perlakuan kasarnya kemarin. Mungkin sekaranglah saat yang paling tepat untuk meminta maaf.

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu kamar Don. Pemuda yang sedikit lebih pendek daripada dirinya itu sedang duduk di atas tempat tidur tanpa mengenakan pakaian. Ia sedang berusaha mengoleskan obat ke bekas-bekas memar yang ada di tubuhnya. Kedatangan Marvelous yang tidak terduga itu membuatnya terkejut.

“Ah… Marvelous.” Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Gerakan tangannya langsung berhenti mendadak. Anehnya, ia tidak dapat memalingkan pandangannya dari Marvelous yang berdiri di dekat pintu.

“Bagaimana lukamu?” tanya Marvelous. Ia menutup pintu dan melangkah masuk. Tanpa sadar, Don beringsut mundur dari tempat ia duduk tadi. Marvelous, tentu saja, menyadari kalau Don mendadak menjadi gugup dengan kehadirannya di dalam kamar tersebut. Di dalam hatinya, ia tertawa geli melihat tingkah Don yang menggemaskan itu.

Dengan cuek, ia langsung duduk di sisi Don. Toh itu juga bukan kali pertama bagi dirinya untuk masuk ke kamar Don. Bahkan sebenarnya ia lebih sering menghabiskan malam di kamar Don ketimbang di kamarnya sendiri. Ia sangat menyukai kamar tidur Don yang selalu tertata rapi dan kelihatan sejuk dibandingkan dengan kamarnya yang berantakan.

“Berbaliklah” perintahnya. “Biar aku yang mengoleskan obat di punggungmu.”

Don semakin salah tingkah ketika Marvelous merebut tube yang berisi krim pereda rasa nyeri dari tangannya. Sebenarnya ia memang sedikit kesulitan untuk mengoleskan krim ke beberapa bekas memar yang ada di punggungnya. Tapi ia jelas tidak menduga dan berharap kalau Marvelous akan mengoleskan krim ke bekas-bekas memarnya.

“Cepat berbalik” kata Marvelous dengan nada tidak sabar. “Kau mau kita duduk berhadap-hadapan sepanjang malam di sini?”

Don cepat-cepat berbalik begitu mendengar kalimat terakhir dari Marvelous itu. Marvelous menekan tube itu dan membiarkan isinya mengalir memenuhi tangannya. Dengan lembut, ia mengoleskan krim ke memar di punggung Don. Ia melakukannya dengan ketelatenan yang nyaris tak pernah diperlihatkannya kepada orang lain selama ini.

Sementara itu, Don merasakan jantungnya berdegup kencang. Jari-jari Marvelous yang menyentuh kulitnya memang terasa kasar – khas tangan lelaki – tapi kelembutan sentuhannya terasa begitu menyejukkan. Sentuhan-sentuhan itu juga menghapuskan sisa-sisa ketakutan dan keraguan yang sempat menghantui dirinya selama ia disekap di Free Joker. Ia sempat merasa takut kalau Marvelous akan memilih untuk ‘membuang’ mereka demi mempertahankan semua Ranger Key tapi Marvelous muncul untuk merebut kembali mereka.

“Selesai!” seru Marvelous ketika ia telah mengoleskan krim ke bekas memar yang terakhir di punggung Don.

Jujur, Don merasa sedikit kecewa karena ia masih ingin berlama-lama menikmati sentuhan jari Marvelous di tubuhnya. Tapi, tentu saja, ia tidak mengatakan itu.

“Terima kasih” katanya dengan nada kaku. Ia bangkit dari tempat tidur dan mulai mengenakan piyamanya. Setelah apa yang terjadi hari itu, ia merasa luar biasa capek. Yang ia inginkan adalah tidur nyenyak sampai besok siang tanpa diganggu siapapun.

Tapi Marvelous masih ada di kamarnya. Ia masih duduk dengan santainya di atas tempat tidur Don. Dan ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan keluar dari kamar itu. Don mengeluh di dalam hatinya, ia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa.

“Mau kubuatkan susu hangat sebelum tidur?” tanya Marvelous. Don terperangah mendengar pertanyaan tersebut. Marvelous… membuatkan susu hangat untuk dirinya sebelum tidur? Kalau saja di antara mereka sedang tidak ada ‘jarak’ seperti saat ini, mungkin ia akan langsung memegang dahi Marvelous untuk memastikan kalau Marvelous tidak demam.

Ia menggelengkan kepalanya, berharap kalau gerakan itu cukup untuk menjawab pertanyaan Marvelous. Ia ingin agar Marvelous cepat-cepat keluar dari kamarnya, tapi ia juga tidak bisa menyuarakan keinginan tersebut. Jauh di dalam hatinya, kehadiran Marvelous di dalam kamarnya sebenarnya membuat ia merasa begitu lega dan tenang.

Marvelous berdiri dan berjalan ke arah Don. Don mundur selangkah namun gerakan Marvelous lebih cepat. Dalam waktu satu detik saja, ia sudah berdiri di hadapan Don. Jarak di antara keduanya hanya sejengkal saja sekarang. Don bisa merasakan hembusan nafas Marvelous yang hangat menerpa rambut ikalnya. Ia juga bisa mencium aroma sabun mandi yang biasa digunakan oleh Marvelous. Aroma tersebut terasa begitu akrab dengan hidungnya.

Detik berikutnya, ia sudah berada di dalam pelukan Marvelous. Pemuda yang lebih jangkung tersebut memeluknya erat-erat tapi juga dengan penuh kelembutan agar tidak sampai menyakiti Don. Jantung keduanya berdegup bersama-sama. Marvelous meletakkan kepalanya di bahu kiri Don.

“Maafkan aku” bisiknya dengan suara pelan.

“Untuk apa?” tanya Don. Ia benar-benar tidak tahu kenapa Marvelous meminta maaf kepadanya. Selama mengenal Marvelous, pemuda itu hampir tidak pernah meminta maaf kepada siapapun.

Marvelous merenggangkan pelukannya. Ia menyentuhkan dahinya ke dahi Don dan kembali berbisik, “Aku meminta maaf atas apa yang kulakukan padamu kemarin”.

Mulut Don membulat membentuk huruf O. Marvelous tidak mau membuang kesempatan emas itu. Ia langsung mencium bibir Don dan membiarkan indera pengecapnya menginvasi mulut Don. Don, tentu saja, tidak punya pilihan lain selain membalas ciuman tersebut.

“Aku juga minta maaf karena telah menanyakan hal-hal yang bodoh kemarin” kata Don setelah mereka selesai berciuman. “Tidak sepantasnya aku bertanya kepadamu…”

“Tidak ada yang salah dengan pertanyaanmu, Hakase” potong Marvelous. “Aku yang tidak bisa mengendalikan emosiku karena kemunculan mendadak Basco di depan kita semua.”

“Tapi aku telah mengingatkanmu akan seseorang yang ingin kau hapuskan keberadaannya dari pikiranmu.”

“Dan dia kini muncul di hadapan kita, Hakase. Kalau memang aku ingin menyingkirkan dia selama-lamanya dari pikiranku, yang harus kulakukan adalah mengalahkannya. Selama ini aku menyingkirkan dia dari hidupku karena aku mengira ia tidak akan muncul lagi.”

“Kenapa kau tidak pernah bercerita tentang Basco kepada kami semua?” tanya Don.

“Karena ia adalah masa laluku. Dan aku tidak pernah berharap kalau masa lalu itu akan muncul di hadapanku sekarang. Aku selalu berpikir dan berharap kalau ia tidak akan pernah muncul lagi di hadapanku setelah ia mengkhianati Akaki Kaizoku-dan.”

“Kau selalu menyimpan seluruh masalahmu untuk dirimu sendiri” gumam Don. “Kenapa kau tidak mau mencoba untuk berbagi dengan kami semua?”

“Aku tidak ingin membuat kalian khawatir dengan masalahku, Hakase.”

“Pada kenyataannya, kami jadi lebih khawatir padamu karena kau tidak pernah mengatakan apa-apa tentang masa lalumu. Kau membiarkan lukamu menganga lebar tanpa ada yang menyembuhkannya. Aku… kami mungkin tidak bisa menyembuhkan lukamu, tapi kami bisa mencoba untuk membuatmu merasa lebih baik.”

“Hakase…” Mata Marvelous berkaca-kaca mendengar ucapan Don. Baru kali inilah Don melihat mata Marvelous berkaca-kaca seperti itu. Dan ia juga tahu kalau matanya sendiri berkaca-kaca ketika ia memberondong Marvelous dengan isi hatinya.

“Selama ini, kau selalu menjadi kekuatan bagiku… tidak, bagi kami semua. Meski kami berdiri di belakangmu, tetap kaulah yang memberikan kekuatan bagi kami berempat. Dalam situasi tertentu, bukankah kami seharusnya bisa memberikan sesuatu untukmu juga? Bahkan dukungan yang paling kecil sekalipun bisa menjadi sumber kekuatan yang sangat besar.”

Don menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. “Apakah kau tahu kalau dengan caramu sendiri kau telah memberikan gambaran masa depan kepadaku? Jauh sebelum bertemu denganmu, aku pernah punya gambaranku sendiri tentang masa depan. Gambaran itu berubah ketika aku bertemu denganmu dan mengikuti jejak langkahmu. Kau dan masa depan yang ingin kau wujudkan dengan tanganmu sendiri telah bertransformasi menjadi masa depan yang ingin kuwujudkan juga. Kau memberikan kekuatan kepadaku bahkan ketika kau tidak menyadarinya. Aku ingin melakukan hal yang sama, Marvelous. Kau memberikan aku begitu banyak hal dan aku ingin melakukan hal yang sama.”

“Kau telah memberikan sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh orang lain kepadaku, Hakase” bisik Marvelous. “Kau selalu membuatku merasa tenang dan diperlukan. Terkadang ketika aku merasa ragu akan berbagai hal, aku melihat ke arahmu dan merasakan sesuatu yang menenangkan mengalir di dalam diriku.”

Don bengong mendengar ucapan Marvelous itu. Tentu saja, ia tidak pernah menduga Marvelous akan berkata seperti itu.

“Di saat kau mengira kau tidak memberikan apapun kepadaku, sebenarnya kau telah memberikan sesuatu yang luar biasa. Bagiku, inilah arti dari kebersamaan kita. Inilah arti dari kita. Tanpa kita sadari, kita telah mendukung satu sama lain. Kita tidak mengucapkannya tapi kita merasakannya. Itu jauh lebih penting daripada mengucapkan kata-kata hampa yang indah tapi tak bermakna kan? Aku membutuhkanmu di Galleon, Hakase. Aku membutuhkanmu di sisiku. Aku ingin kata kita ada di dalam diri kita berdua sampai kapanpun.”

“Marvelous…”

Don memeluk Marvelous dan membenamkan wajahnya di dada Marvelous yang bidang. Ia terisak pelan selama beberapa saat sebelum kembali bicara.

“Aku mencintaimu…”

“Aku tahu” balas Marvelous sambil mengacak-acak rambut Don dengan penuh kasih sayang.

Aku juga, Hakase. Aku mencintaimu.

“Berjanjilah kepadaku kalau kau akan berbagi segala masalahmu kepadaku mulai sekarang” tuntut Don. Ia menjauhkan diri dari Marvelous dan menatapnya dengan pandangan memelas seperti seekor anak anjing tersesat yang sangat menggemaskan.

“Wah, bagaimana ya?” ujar Marvelous dengan nada menggoda. “Tergantung masalahnya ya…”

Mou, Marvelous…”

Don merengut mendengar ucapan Marvelous tersebut. Tapi Marvelous tidak membiarkan Don merengut lama-lama. Ia tertawa dan kemudian mencium bibir Don lagi.

Keduanya berciuman lamaaaaa dan sama sekali tidak sadar kalau Joe, Luka, dan Ahim diam-diam memperhatikan mereka dari tadi. Dengan lihai, Luka berhasil membuka pintu kamar Don tanpa bersuara.

“Nah, keduanya sudah berbaikan sekarang” kata Luka setelah ia menutup pintu kamar Don. Mereka bertiga berjalan berjingkat-jingkat ke arah kamar masing-masing. Adegan selanjutnya tidak perlu ditonton lagi. Dramanya jelas sudah selesai. Kalaupun ada adegan lanjutan… yah, jelas bukan untuk tontonan mereka lagi. “Besok pagi pasti Hakase akan membuatkan sarapan yang luar biasa lezat untuk kita semua.”

Ketiganya saling tersenyum satu sama lain sebelum masuk ke kamar masing-masing. Tanpa campur tangan mereka pun rupanya masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: