宇宙海賊の日記

June 13, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Picture Perfect

Filed under: fanfic — Tags: , , , , — uchuukaizoku @ 20:46

Title: Picture Perfect
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Rating: G

Bagi seorang Don Dogoier, salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya adalah sebuah kejutan kecil yang tak terduga dari Marvelous. Kebetulan Marvelous memang bukan tipe orang yang suka memberikan kejutan kepada siapapun. Kejutan yang diberikan oleh Marvelous kepada Don masih bisa dihitung dengan menggunakan jari-jari tangannya. Tapi itu juga bukan hal yang terlalu penting bagi Don. Asalkan ia bisa menghabiskan waktu bersama Marvelous di Galleon saja dia sudah merasa sangat puas. Bahkan hanya sekedar duduk bermalas-malasan di sofa sambil memandangi wajah Marvelous yang sedang terlelap di ‘kursi kebesaran’-nya pun sudah dianggap sebuah anugerah oleh Don. Bagi Don, saat-saat seperti itu terasa sangat personal. Melihat sosok Marvelous yang tidur tenang pun membuatnya merasa begitu tenang dan damai.

Hujan deras baru saja berhenti setelah sebelumnya mengguyur kota metropolitan Tokyo selama berjam-jam. Cuaca sore itu, tentu saja, dingin. Joe, Luka, dan Ahim sudah sejak tadi menghilang ke kamar masing-masing. Cuaca seperti itu memang membuat semua orang merasa malas dan mengantuk. Don menggunakan kesempatan langka itu untuk membaca buku di ruang makan. Di depannya tersaji secangkir teh panas dan sepiring biskuit. Marvelous sedang tertidur di sofa. Sebuah selimut tebal berwarna biru laut menutupi tubuhnya. Don yang tadi membawa selimut itu dari kamarnya dan menyelimuti Marvelous.

Don begitu hanyut dalam buku yang sedang dibacanya sehingga ia tidak sadar kalau Marvelous sudah berdiri di belakangnya. Pemuda yang lebih jangkung itu menyeringai sendiri sebelum membungkukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Don dari belakang. Tentu saja, Don terkejut dengan pelukan yang tak terduga itu. Tapi ia tahu kalau yang memeluknya adalah Marvelous.

“Marvelous…” Ia memprotes sambil membalikkan tubuhnya. Seringai Marvelous sudah menantinya. Seperti biasa, efek dari seringai tersebut membuat jantung Don langsung berdegup lebih kencang dibandingkan biasanya. Heran, padahal ia sudah begitu sering melihat seringai yang cenderung kurang ajar itu.

“Mau turun ke bawah dan makan ramen?” tanya Marvelous. “Perutku lapar.”

Turun ke bawah di sini berarti turun ke kota.

“Bagaimana kalau kubuatkan ramen instan?” Don merasa malas untuk keluar di saat cuaca sedang dingin seperti itu. Di dalam Galleon yang hangat jauh lebih menyenangkan daripada memberikan kesempatan kepada cuaca dingin untuk menggigiti tulang-tulangnya.

Marvelous menggelengkan kepalanya. “Aku ingin makan ramen dari mangkuk yang besar, bukan ramen kemasan. Temani aku!”

Don tahu, ia tidak bisa menolak permintaan sang kapten. Marvelous akan terus memaksanya sampai ia mau ikut turun ke Tokyo.

“Baiklah” katanya. “Tapi hanya makan ramen saja kan?”

Marvelous tidak menjawab pertanyaan itu. Don menghela nafas dan kemudian menutup buku yang sedang dibacanya.

Tidak lama kemudian, keduanya sudah berada di bawah. Tokyo masih tetap ramai meski baru saja diguyur hujan deras. Hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka di jalan tampak berjalan terburu-buru. Marvelous sendiri berjalan dengan santai. Kali ini, ia tidak mengenakan jubah merah kebesarannya. Pakaian seperti itu terasa sangat mencolok, begitu katanya kepada Don ketika ia ditanya kenapa ia tidak mengenakan jubah itu. OK, biasanya dia memang tidak peduli dan tetap mengenakan jubah merah tersebut kalau sedang turun ke kota. Entah kenapa, ia memutuskan untuk meninggalkan jubah kesayangannya itu di Galleon.

Yang membuat Don heran, Marvelous memilih untuk mengenakan sweater berbahan wol berwarna coklat tanah yang dibeli Don beberapa minggu yang lalu. Tentu saja, Don merasa senang melihat Marvelous mengenakan sweater pemberiannya itu. Tapi ia memilih untuk tidak menanyakan apapun kepada Marvelous. Don sendiri mengenakan sebuah sweater berwarna coklat muda. Ia membeli kedua sweater tersebut pada saat yang bersamaan ketika ia turun ke kota bersama Ahim. Ia langsung menyukai sweater berwarna coklat tanah yang diberikannya pada Marvelous ketika ia melihat sweater itu dipajang di etalase. Ahim-lah yang kemudian mengusulkan kepada dirinya agar membeli sweater yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.

Marvelous menghabiskan tiga mangkuk besar ramen di kedai favoritnya. Seakan belum cukup, ia menghabiskan ramen yang tersisa di mangkuk Don. Ia tampak sangat puas ketika mereka keluar dari kedai itu. Di atas kepala mereka, langit perlahan-lahan menjadi gelap.

“Mau jalan-jalan dulu sebelum pulang ke Galleon?” tanya Marvelous.

“Sudah saatnya menyiapkan makan malam…”

“Mereka bertiga bisa mengurusi diri mereka sendiri. Sekali-sekali, kau perlu bersantai juga, Hakase.”

Ia meraih tangan Don dan menggandengnya menembus kerumunan orang-orang. Don merasa wajahnya memerah sementara ia berusaha menyejajarkan diri dengan langkah-langkah Marvelous yang besar. Ia tahu beberapa pasang mata sedang melihat ke arah mereka.

“Biarkan saja mereka” bisik Marvelous di telinganya.

Marvelous membawanya ke sebuah taman. Ia menyuruh Don duduk di salah satu kursi sementara ia pergi membeli sesuatu. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan membawa dua buah gelas karton dan sekotak takoyaki yang masih panas dan mengepulkan asap tipis.

Ia duduk di samping Don dan menyerahkan salah satu gelas yang dipegangnya kepada Don. Don membuka tutup gelas tersebut dan mencium aroma cokelat panas yang harum menguar dari dalam gelas. Aroma cokelat panas selalu membawa efek menenangkan bagi Don.

“Kalau hanya cokelat panas, aku bisa membuatkannya untukmu di Galleon” kata Don sambil tersenyum.

“Tapi aku ingin menikmati cokelat panas ini di sini bersamamu” kata Marvelous.

“Eh?”

“Kencan, kencan… aku ingin berjalan-jalan berdua saja denganmu di kota. Sudah lama sekali kita tidak melakukannya kan?”

Wajah Don kembali bersemu mendengar ucapan tak terduga dari mulut Marvelous. Ini benar-benar kejutan. Entah spontan atau tidak, ini adalah kejutan yang sangat manis. Dan kalau ia tidak salah melihat – dan ia yakin kalau matanya masih bisa dipercaya – ia juga melihat wajah Marvelous sedikit memerah. Mau tak mau, ia tersenyum pada dirinya sendiri melihat wajah malu Marvelous.

Keduanya duduk bersisian di kursi taman yang sedikit basah dan dingin. Mereka bicara tentang segala macam hal yang terlintas di dalam benak mereka. Bahkan hal-hal sepele yang tidak penting pun terasa menyenangkan untuk dibahas bersama dengan orang yang disayangi. Keduanya menertawakan hal-hal konyol yang terjadi di Galleon serta bercanda tentang berbagai hal yang pernah mereka alami di bumi dan di planet-planet lain tempat mereka pernah bertualang. Sudah lama sekali mereka tidak sesantai ini.

Don tampak sedikit kecewa ketika Marvelous mengajaknya pulang. Tapi, seperti biasanya, ia tidak memprotes keinginan Marvelous. Mereka sudah pergi cukup lama dari Galleon. Mungkin Joe dan yang lainnya sudah mencari-cari mereka sejak tadi.

Ketika mereka kembali berbaur di keramaian dengan orang-orang yang baru pulang kantor, tiba-tiba ada seorang pria memanggil keduanya. Mereka tidak mengenalnya, tentu saja. Pria tersebut memperkenalkan dirinya dan berkata kalau ia ingin memotret mereka berdua. Marvelous dan Don berpandang-pandangan satu sama lain.

“Bagaimana?” tanya Marvelous. “Kau mau dipotret pria itu?”

Don berpikir sejenak sebelum memberikan keputusannya. Ia tersenyum dan berkata, “Mau. Aku bosan melihat wajah tololku yang selama ini terpampang di poster buronan Zangyack.”

Marvelous membalas senyuman itu dan kemudian berkata kepada sang fotografer, “Baiklah. Kami mau. Tapi tidak akan makan banyak waktu kan?”

Keduanya dibawa ke sebuah gedung yang ada di dekat sana. Rupanya, pria itu adalah seorang fotografer profesional yang sering melakukan pemotretan untuk majalah model dan fashion. Dalam waktu dekat, ia bermaksud merilis buku kumpulan foto yang berisi foto-foto model amatir yang orang-orangnya ia jumpai di jalan. Selain menerbitkan buku kumpulan foto itu, ia juga bermaksud mengorbitkan model-model amatir tersebut seandainya ia menganggap mereka cukup berbakat.

Asisten-asistennya dengan cepat mendandani Marvelous dan Don. Model rambut Don dirombak habis oleh salah satu asisten sang fotografer. Keduanya juga diminta untuk mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang disiapkan khusus untuk pemotretan.

Keduanya sama-sama tertegun ketika mereka berdua sudah keluar dari kamar ganti. Don terlihat sangat menggemaskan dengan model rambut barunya. Seandainya saja mereka tidak berada di dalam studio, Marvelous tahu kalau ia akan langsung menghampiri Don dan mencubit pipinya berulang kali. Sementara itu, sosok Marvelous terlihat sangat cerah dan segar dengan penampilan barunya.

Marvelous duluan yang memecah keheningan singkat tersebut.

“Kau kelihatan luar biasa, Hakase” ujarnya sambil menyeringai. “Benar-benar luar biasa.”

“Kau juga.” Don membalas seringai itu dengan senyuman malu yang tersungging di bibirnya.

Dengan cepat, sesi pemotretan dimulai. Keduanya dipotret dalam berbagai posisi. Sang fotografer tampaknya menyadari hubungan khusus di antara keduanya sehingga ia berulang kali memposisikan mereka berdua dalam posisi yang benar-benar akrab tanpa kesan berlebihan. Di luar dugaan, keduanya tampak sangat rileks dengan sesi pemotretan dadakan tersebut.

“Foto-fotonya bagus” kata sang fotografer ketika ia sudah selesai memotret keduanya. “Tidak ada orang yang akan percaya kalau kalian bukan model profesional.”

Ia memasukkan tangan ke dalam sakunya untuk mengambil dompet. Ketika ia hendak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet, Don mencegahnya.

“Tidak usah” katanya. “Kami benar-benar menikmati sesi pemotretan ini. Sangat menyenangkan.”

“Tapi…”

“Aku akan ganti pakaian sekarang” kata Marvelous. “Jangan lama-lama, Hakase.”

“Baiklah” balas Don.

Setelah Marvelous menghilang di balik pintu kamar ganti, Don kembali bicara dengan sang fotografer.

“Kalau Anda tidak keberatan, bolehkah saya meminta satu lembar foto kami berdua yang Anda potret tadi? Ukurannya tidak perlu besar-besar, asalkan cukup dimasukkan ke dalam dompet saja” katanya. “Cukup itu saja bayarannya.”

Fotografer tersebut memandangnya dengan pandangan penuh pengertian dan kemudian mengangguk.

“Tentu saja” jawabnya dengan nada riang. “Kau boleh memilih foto mana yang ingin kau cetak.”

“Terima kasih” kata Don. Ia memilih foto yang diinginkannya dan kemudian masuk ke kamar ganti untuk berganti pakaian. Ketika ia selesai berganti pakaian, foto yang diinginkannya juga sudah selesai dicetak. Dengan antusias, ia menerima foto itu dan memasukkannya ke dalam dompet. Sempurna. Fotonya dan Marvelous. Sebenarnya ia tidak pernah berharap ia bakal punya foto berdua dengan Marvelous tapi apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar dugaan. Ia tidak mungkin membuang-buang kesempatan untuk memiliki foto itu. Foto itu bagus… sangat bagus, malah. Ia menyukai senyuman dirinya dan Marvelous yang berhasil ditangkap oleh kamera. Alami dan sangat bebas. Mereka tidak terlihat seperti sepasang bajak laut yang turun ke kota untuk bersenang-senang… mereka kelihatan seperti sepasang sahabat yang sedang menikmati saat-saat bahagia.

“Temanmu sudah menunggu di luar” kata sang fotografer. “Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.”

Don melangkah keluar dari studio dengan riang. Marvelous sudah menunggu di luar sana. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya.

“Lama sekali” ujarnya. “Apa yang kau dilakukan di dalam?”

“Tidak ada” jawab Don. Ia cepat-cepat menggandeng tangan Marvelous. Tingkahnya mau tak mau membuat Marvelous tersenyum.

Keduanya kembali berjalan menembus keramaian Tokyo. Benar-benar hari yang menyenangkan. Bagi Don, ini adalah sebuah hari yang patut dikenang. Kencan dengan Marvelous di taman dan difoto bersama Marvelous… ini jelas bukan hal yang bisa terjadi setiap hari di dalam hidupnya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit dan tersenyum kepada bintang-bintang yang mulai menaburkan diri mereka di atas gelapnya langit Tokyo.

Aku akan terus menyimpan foto ini sampai kapanpun. Seandainya pada suatu hari nanti kami sudah tidak bersama lagi, foto ini akan menjadi salah satu kenangan terindahku bersama Marvelous.

Don mempererat gandengannya pada tangan Marvelous. Ia merasa bahagia… tidak, sangat bahagia. Diawali oleh sebuah kejutan kecil, hari itu ditutup dengan hal yang luar biasa menyenangkan. Dan ia tahu, foto itu akan terus berada di dalam dompetnya bahkan sampai 50 tahun ke depan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: