宇宙海賊の日記

June 20, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Wishing On The Same Star

Filed under: fanfic — Tags: , , , , — uchuukaizoku @ 02:23

Title: Wishing On The Same Star
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Rating: G

Don keluar dari dapur dengan membawa seloyang puding susu yang telah ia dinginkan sejak sore di dalam lemari es. Ia sengaja membuat puding susu karena ia tahu Marvelous sangat menyukai puding, terutama puding susu. Daripada menghabiskan uang untuk membeli puding dalam kemasan di supermarket, tentu akan lebih baik kalau ia sendiri yang membuatkan puding untuk semuanya. Uang yang mereka miliki memang tidak bisa dibilang sedikit, tapi lama-lama pasti akan habis juga. Ia ragu Luka akan mau menjual koleksi batu berharganya lagi untuk menambah persediaan uang mereka seandainya uang itu sudah habis. Mereka juga masih belum tahu sampai kapan akan tetap tinggal di bumi. Masih ada banyak hal yang harus mereka lakukan di planet ini.

“Mana Marvelous?” tanyanya. Ia tidak melihat sang kapten duduk di ruang makan. Padahal ia telah memberitahukan Marvelous kalau pencuci mulut hari itu adalah puding susu.

“Paling-paling ada di luar” jawab Luka. “Rasa-rasanya aku melihat ia berjalan keluar tadi.”

“Ya sudah, aku akan memanggilnya nanti” kata Don. Ia memotong seperempat loyang puding susu untuk mereka berempat. Tiga perempat loyang sisanya, tentu saja, untuk Marvelous yang perutnya memiliki daya tampung di atas manusia normal.

Ia membagi-bagikan puding susu yang telah dipotongnya kepada Joe, Luka, dan Ahim setelah sebelumnya menyiram puding susu mereka dengan vla kental beraroma vanila yang wangi.

“Kau sendiri tidak makan, Hakase-san?” tanya Ahim sambil menerima jatahnya. “Terima kasih untuk pudingnya.”

“Nanti saja. Biar kupanggil Marvelous dulu” jawabnya. Ia berjalan keluar ke arah geladak.

“Kau tentunya tahu kalau Hakase tak akan makan tanpa Marvelous” ujar Luka. Ia menyeringai ke arah Ahim sembari mengunyah pudingnya. “Mama selalu makan bersama Papa, Ahim.”

“Ma… Mama?” Ahim nyaris tersedak mendengar ucapan Luka itu.

“Lelucon yang tidak lucu” gumam Joe.

“Ah, Joe hanya pura-pura tidak mau mengakui kenyataan kalau mereka berdua sedikit terlalu dekat dibandingkan orang-orang lain kan?” sindir Luka. Ia menghabiskan pudingnya dan membawa piringnya ke dapur. “Itulah kesan yang kutangkap tentang mereka berdua dan harus kuakui kalau aku menikmati apa yang ada di antara mereka.”

Joe dan Ahim saling berpandang-pandangan, tak tahu harus berkata apa.

Marvelous tak ada di geladak. Di langit, bulan bersinar cerah tanpa ada awan yang berusaha untuk menutupi kecemerlangan bola berwarna emas yang terkadang mengingatkan Don akan keju kualitas premium yang harganya mahal.

Don mengeluarkan Mobirates miliknya dari dalam saku dan menghubungi Marvelous. Ia menunggu cukup lama sampai Marvelous menerima panggilannya.

“Marvelous, kau ada di mana sekarang? Puding susu…”

“Di bawah, di bawah.”

Marvelous memutuskan hubungan telepon setelah itu. Don menghela nafas panjang dan kembali memasukkan Mobirates ke dalam sakunya.

Ketika ia kembali ke ruang makan, Joe dan Ahim sudah tidak ada di sana. Tampaknya keduanya sudah menghabiskan pencuci mulut masing-masing dan masuk ke kamar. Don memasukkan puding susu jatah Marvelous ke dalam lemari es dan duduk seorang diri di ruang makan. Ruangan tersebut terasa kosong. Hanya ada Navi yang bertengger di kursi Marvelous tapi burung robot itu sudah terlelap.

Mungkin sebaiknya aku turun saja untuk menemani Marvelous.

Lima menit kemudian, ia sudah ada di bawah. Sebelumnya ia telah mencari tahu posisi Marvelous dengan panel navigasi yang terpasang di Gokai Galleon. Selama Mobirates dinyalakan, tak sulit baginya untuk bisa menemukan Marvelous. Sang kapten rupanya sedang berada di tepi sungai di dekat jembatan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Don berdiri saat itu.

Dalam perjalanan ke tempat Marvelous berada, Don membeli dua gelas cokelat panas dalam gelas styrofoam. Cuaca malam itu sedikit berangin. Segelas cokelat panas pasti akan dapat menghangatkan tubuh mereka.

Marvelous sedang berbaring di atas rerumputan di tepi sungai. Ia menjadikan kedua tangannya sebagai pengganti bantal. Ia tampak hanyut dalam lamunannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari suara langkah kaki Don yang mendekatinya. Pandangan matanya tertuju ke arah bulan dan tirai malam tempat sang bola keemasan melekat dengan indahnya.

Tanpa membuang-buang waktu untuk menyapa Marvelous, Don duduk di sampingnya. Ia meletakkan salah satu gelas yang dibawanya di samping tubuh Marvelous. Sang kapten sedikit terkejut ketika menyadari Don duduk di sampingnya.

“Kau rupanya, Hakase. Ada apa?” tanyanya sambil menoleh ke arah si pirang yang langsung memamerkan senyuman manisnya.

“Hanya ingin memberitahukanmu kalau pencuci mulut malam ini adalah puding susu favoritmu” jawab Don.

“Kau kan bisa memberitahu aku dengan menggunakan Mobirates” kata Marvelous. “Tak perlu berepot-repot turun ke sini untuk mengatakan hal itu.”

“Siapa juga yang turun ke sini hanya untuk memberitahukanmu soal puding susu? Aku ingin berjalan-jalan sebentar juga.”

Marvelous mengalihkan pandangannya dari Don. Ia kembali menatap ke arah langit. Taburan bintang-bintang membuat malam bertambah semarak. Bulan tak lagi bertahta sendiri di atas sana.

“Bulan yang indah” ucap Don. “Sudah lama sekali aku tidak melihat bulan seindah ini.”

Don lahir di sebuah planet yang memiliki lebih dari satu satelit. Berbeda dengan bumi, langit di planet tersebut selalu dihiasi oleh bulan yang bersinar cemerlang setiap malamnya. Tiada malam tanpa hiasan cahaya satelit-satelit planet tersebut.

“Kau merindukan planet kelahiranmu, Hakase?”

“Tidak juga” jawab Don. Jawaban itu adalah jawaban jujur dari lubuk hati terdalamnya. Ketika ia baru memulai perjalanannya bersama Marvelous dan yang lainnya, ia memang sempat merindukan tempat kelahirannya. Seiring dengan berlalunya waktu, ia melupakan kesedihannya dan menikmati segala hal yang ditawarkan oleh perjalanan mengarungi antariksa tersebut. Dan lagi, ada Marvelous di sisinya….

“Berbaringlah di sini.”

Marvelous menepuk-nepuk tanah berumput di samping tubuhnya. Don sempat merasa ragu untuk berbaring di sana tapi senyuman Marvelous menghapuskan keraguannya. Ketika ia hendak berbaring dengan berbantalkan tangannya sendiri, Marvelous mencegahnya. Pemuda yang lebih tua itu merentangkan tangan kanannya dan memberikan isyarat supaya Don berbaring di sana.

“Tapi nanti…”

“Sudahlah, letakkan saja kepalamu di sini.”

Don mendaratkan kepalanya pelan-pelan di atas lengan Marvelous. Ketika Marvelous merasa tubuh Don sedikit terlalu jauh, ia menarik pemuda berambut pirang itu agar lebih mendekat.

Keduanya berbaring bersisian dan kehangatan menjalari tubuh masing-masing. Don menoleh ke arah Marvelous dan melihat sang kapten kembali memperhatikan langit malam. Sosok Marvelous yang dilihat dari samping sungguh luar biasa menawan. Ia memberanikan diri untuk mencium pipi Marvelous. Ciuman lembut tersebut membuat Marvelous tersenyum dan membalas tatapan Don. Tatapan Marvelous membuat Don merasa sedikit salah tingkah.

“Di tempat kelahiranku, ada kisah yang berhubungan dengan bintang jatuh” kata Don. Jelas ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Marvelous. “Katanya kalau ada dua orang yang bersama-sama melihat bintang jatuh dan mengucapkan keinginan yang sama, keinginan keduanya akan terkabul dan mereka akan bahagia selamanya. Lucu sekali ya. Ada banyak sekali orang dewasa di sana yang percaya kalau…”

“Kedengarannya menarik. Di malam cerah seperti ini pasti kita bisa melihat bintang jatuh dengan jelas. Ayo, kita cari bintang jatuh itu dan kita ucapkan keinginan kita masing-masing di dalam hati. Kita liihat apakah kita punya keinginan yang sama.”

Keduanya melihat ke atas, menanti-nantikan kemunculan bintang jatuh. Marvelous duluan yang melihat ada bintang jatuh.

“Ah, itu ada satu…” katanya sambil menunjuk ke langit.

“Mana? Manaaaaaaaaa?” tanya Don.

“Sudah menghilang ke arah cakrawala sana” kata Marvelous. “Ayo, pasang matamu baik-baik, Hakase. Jangan sampai bintang jatuh berikutnya terlewatkan oleh matamu.”

Marvelous terus yang berhasil melihat bintang jatuh selama satu jam ke depan. Don merasa kecewa karena ia tidak berhasil melihat satupun bintang jatuh yang dilihat oleh Marvelous. Tepat ketika kekecewaannya memuncak, ia dikejutkan oleh seruan keras Marvelous. Saat itu, keduanya sudah duduk di atas rerumputan agar lebih mudah untuk menemukan bintang jatuh.

“ITU ADA SATUUUUU!!” seru Marvelous sambil menunjuk ke arah langit.

Kali ini, keberuntungan berpaling kepada Don. Ia melihat bintang jatuh yang dimaksud Marvelous. Ia buru-buru memejamkan mata dan mengucapkan keinginannya di dalam hati. Ketika ia membuka matanya, bintang jatuh tersebut sudah lenyap ditelan tabir malam.

“Apa keinginanmu?” tanya Marvelous. Ia turut merasa senang melihat ekspresi bahagia Don yang berhasil melihat bintang jatuh. Don memang selalu gampang merasa bahagia oleh hal-hal kecil yang rasanya tidak penting bagi orang kebanyakan.

“Tidak apa-apa ya menyebutkan keinginan kita kepada orang lain?” tanya Don dengan nada ragu.

“Seharusnya tidak apa-apa” jawab Marvelous seenaknya.

“Aku berharap… eh, aku berharap supaya aku…” Don mengucapkan kata-katanya dengan suara terputus-putus. “Aku… eh, aku berharap agar… aku bisa terus bersama dengan Marvelous.”

Marvelous tertawa mendengar jawaban tersebut. Benar-benar jawaban khas Don. Terdengar konyol tapi membuat hati Marvelous terasa hangat.

“Bagaimana denganmu, Marvelous?” tanya Don. Ia langsung memasang tampang seperti seekor anak anjing yang luar biasa menggemaskan.

“Ra… ha… SIA!!” jawab Marvelous. Ia tertawa keras-keras setelahnya. Lewat sudut matanya, ia melihat wajah Don yang mulai cemberut. Ups, bakalan berbahaya kalau Don sampai ngambek dan merajuk.

Sebelum Don memalingkan wajahnya ke arah lain, Marvelous buru-buru berkata, “Sayang sekali, Hakase. Permintaan kita berbeda.” Sang kapten langsung memasang wajah kecewa. “Aku tadi berharap kalau kita bisa segera mengumpulkan harta karun terbesar di seantero antariksa.”

“Yah, sayang sekali” gumam Don. “Coba kalau permintaan kita sama.”

Don tampaknya cukup puas bisa mendengar permintaan Marvelous. Yah, setidaknya jawaban palsu saja bisa membuatnya berhenti merajuk. Marvelous tertawa di dalam hatinya.

Karena aku tidak mungkin memberitahukan dia apa keinginanku yang sesungguhnya. Aku ingin terus bersamamu, Hakase. Kalau petualangan di bumi ini sudah berakhir, aku ingin kembali ke angkasa bersamamu. Aku ingin berbagi segala cerita dan mimpi denganmu sampai kita tua dan mati.

Marvelous menggenggam tangan Don yang duduk di sampingnya dan menarik tubuh Don agar mendekat. Ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Don.

“Aku menyayangimu…”

Bisikan tersebut membuat Don langsung berpaling. Marvelous menyambut wajah Don dengan seringai khasnya. Tanpa membuang-buang waktu, ia mencuri sebuah ciuman dari Don dan bangkit dari posisi duduknya.

“Ayo kembali ke Galleon” ajaknya. “Aku sudah tak sabar ingin menghabiskan puding susu buatanmu.”

Don bangkit sambil membersihkan celananya dari rumput dan sedikit tanah yang menempel. Ketika ia sudah membersihkan kotoran-kotoran tersebut dari celananya, ia mengangkat kepalanya dan melihat Marvelous yang mengulurkan tangan ke arahnya. Don menyambut uluran tangan tersebut dan keduanya berjalan bersisian untuk kembali ke Galleon.

Nah, bintang jatuh, simpanlah keinginanku ini sebagai sebuah rahasia. Kelak ketika saatnya tiba, aku akan memberitahukan apa keinginanku yang sesungguhnya kepada si bodoh yang ada di sampingku saat ini. Untuk saat ini, cukup aku, kau, dan Tuhan saja yang tahu.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: