宇宙海賊の日記

June 26, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Confession

Filed under: fanfic — Tags: , , , , — uchuukaizoku @ 01:46

Title: Confession
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Rating: PG-12

Dering jam weker membangunkan Don dari tidurnya yang tidak bisa dikatakan pulas. Kepalanya terasa sakit ketika ia membuka matanya. Tidak aneh, ia baru tidur selama kurang lebih tiga jam. Jam wekernya menunjukkan pukul lima pagi. Ia sengaja bangun lebih awal agar ia punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pemeriksaan menyeluruh terhadap Gokai Galleon. Pemeriksaan ini termasuk dalam tugas rutin yang harus ia lakukan setiap beberapa bulan sekali. Selain memeriksa kondisi Gokai Galleon, ia juga harus memeriksa kondisi Gokai Machine lainnya. Akan tetapi, Gokai Galleon adalah prioritas karena lebih sering digunakan ketimbang kendaraan lainnya (yang hanya digunakan pada saat bertempur).

Don mengganti piyamanya dengan pakaian kerja yang masih berlepotan oli. Hari itu adalah hari terakhir pemeriksaan Gokai Galleon. Ia bermaksud memeriksa keempat Gokai Machine lainnya keesokan harinya. Kalau ia bekerja sesuai rencana, seharusnya ia bisa menyelesaikan pemeriksaan terhadap Gokai Galleon pada siang hari. Setelah itu, ia memutuskan untuk tidur sepuasnya sampai pagi berikutnya.

Kopi bukanlah minuman favorit Don. Akan tetapi, ia jelas membutuhkan secangkir kopi hitam yang kental dan tanpa gula sebelum memulai aktivitas berat hari itu. Ia berjalan dengan langkah gontai ke dapur. Selain kopi pahit, ia juga membutuhkan dua butir aspirin untuk mengalahkan sakit kepalanya.

Don sedikit terkejut ketika mendapati lampu dapur menyala. Ia ingat kalau ia telah mematikan lampu tadi malam sebelum ia kembali ke ruang mesin. Apa mungkin Ahim sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan untuk semuanya? Sudah dua hari Don tidak masuk ke dapur untuk menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam. Ia terlalu sibuk memeriksa kondisi mesin sedari pagi sampai malam. Ia bahkan tidak ikut makan bersama rekan-rekannya. Selama dua hari, ia hanya mengambil beberapa potong sandwich dari dapur untuk dimakan sembari bekerja. Gokai Galleon benar-benar membutuhkan perhatian ekstra kali ini karena begitu tiba di bumi, kapal berwarna merah tersebut begitu sering digunakan untuk bertempur menghadapi pasukan Zangyack. Kerusakan terjadi di beberapa bagian yang termasuk vital. Sebenarnya jadwal pemeriksaan menyeluruh terhadap Gokai Galleon masih beberapa minggu lagi, tapi Don sengaja memajukan jadwal karena ia tahu Gokai Galleon butuh perhatian khusus kali ini.

Don tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya ketika ia melihat Marvelous sedang menyiapkan sandwich di dapur. Itu jelas pemandangan yang amat sangat tidak lazim bagi Don. Biasanya Marvelous hanya masuk ke dapur kalau ia hendak mengambil minuman dingin saja (atau kalau ia hendak mencuri makanan yang sedang dimasak Don). Sang kapten sama sekali tidak pernah mau berepot-repot dalam urusan menyiapkan makanan. Karena itulah, rasanya ganjil melihat Marvelous menyiapkan makanan. Apalagi ia tidak mengenakan jubah merah ‘kebesarannya’. Marvelous hanya mengenakan kemeja putih dengan rompi hitam yang dihiasi garis-garis merah serta celana panjang dari bahan kain yang tebal dan berwarna gelap.

“Baru kali ini aku melihatmu menyiapkan makanan di dapur” goda Don. Ia berdiri di pintu dapur sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Dan tidak biasanya kau bangun pagi-pagi begitu. Kelaparan? Mau kusiapkan minuman hangat sebelum aku kembali ke ruang mesin?”

Tanpa menunggu jawaban Marvelous, Don menyiapkan secangkir susu panas untuk Marvelous dan secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Don mengerutkan keningnya ketika ia melihat Marvelous memasukkan potongan-potongan roti yang berisi daging, keju, dan sayuran tersebut ke dalam sebuah kotak plastik yang transparan. Tapi ia memutuskan untuk tidak menanyakan apapun kepada Marvelous. Ia meniup-niup kopinya yang masih panas dan menghabiskan isi cangkir tersebut dalam dua tegukan panjang.

“Aku pergi ke kamar mesin sekarang” ucapnya pada Marvelous. Ia baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar dari dapur ketika tangan Marvelous meraih tangannya.

“Temani aku ke bawah hari ini.” Itu artinya Marvelous ingin agar Don menemaninya turun dari Gokai Galleon. Entah apa yang ada di dalam benak Marvelous saat itu. Ia jelas tahu kalau Don sedang dikejar-kejar target pemeriksaan Gokai Galleon, tapi kenapa ia malah mengajak Don untuk turun ke bawah.

“Tapi aku harus menyelesaikan pemeriksaan Gokai Galleon hari ini.”

“Kau bisa mengerjakannya besok” kata Marvelous. “Kau jelas-jelas butuh bersantai sejenak, Hakase.”

Don sadar, ia memang butuh bersantai sebelum kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Tapi ia diburu waktu. Mumpung Zangyack sedang tidak bergerak, ia harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan ini. Berbeda dengan musuh yang punya prajurit dalam jumlah besar untuk memeriksa kondisi Gigant Horse, hanya ia yang bisa diandalkan untuk memeriksa kondisi Gokai Galleon dan Gokai Machine.

“Tapi…”

“Ini perintah, Hakase.”

Kalau kalimat pamungkas itu sudah diucapkan, Don pun tidak bisa membantah. Ia mengeluh dalam hatinya. Jadwal perbaikan Gokai Galleon terpaksa molor dari rencana.

“Setidaknya, beri aku waktu untuk mengganti pakaianku” kata Don.

“Lima menit. Tidak kurang dan tidak lebih.”

Don kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian sehari-hari. Kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak yang berwarna biru muda dengan garis-garis kuning yang tipis, dasi panjang, serta celana panjang dan kaus kaki.

“Kau tidak mengenakan jubahmu?” tanya Don dengan nada heran ketika ia melihat Marvelous berjalan meninggalkan ruang makan dengan penampilan yang sama seperti tadi.

Marvelous lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan itu. Dalam hatinya, Don bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu. Terlalu banyak keanehan yang dihadapinya pagi itu. Tidak biasanya Marvelous begitu diam ketika diajak bicara. Toh Don juga tidak menanyakan hal yang sensitif. Jujur, Don sebenarnya bisa merasakan ketegangan yang mengalir keluar dari tubuh Marvelous. Tapi ia juga sadar kalau ia tidak bisa sembarangan melontarkan pertanyaan kepada Marvelous. Salah sedikit saja, sang kapten bisa meledak bagaikan dinamit yang disulut obor.

Keduanya turun dari Gokai Galleon dan berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke sebuah danau kecil di tepi hutan. Matahari baru saja memperlihatkan sosoknya setelah bersembunyi selama 12 jam. Rupanya, Gokai Galleon telah meninggalkan daerah perkotaan. Kelihatannya, ketika semua orang sedang tidur, Marvelous telah memindahkan rute Gokai Galleon ke daerah yang hijau dan rimbun di dekat gunung.

“Bagaimana kalau kita sarapan di sini?” tanya Marvelous. Ia meletakkan kotak yang dibawanya dan duduk di atas rumput. Mau tak mau, Don melakukan hal yang sama. Pertanyaan Marvelous tadi lebih merupakan sebuah perintah ketimbang pertanyaan di telinga Don.

Keduanya duduk berhadap-hadapan. Marvelous mengeluarkan sepotong sandwich dan menggigitnya.

“Kau tidak mau makan?” tanyanya pada Don.

Dengan segan, Don mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong sandwich berisi keju dari dalam kotak. Ia menggigit roti tersebut pelan-pelan. Keheningan yang muncul di antara mereka membuat Don merasa sedikit sesak nafas. Bahkan ketika Marvelous sedang marah pun, rasanya tidak seperti ini. Rasanya jauh lebih lega kalau Marvelous melampiaskan kemarahannya dengan berteriak-teriak ketimbang diam seribu bahasa seperti itu. Tapi Don sama sekali tidak ingat kesalahan apa yang telah ia lakukan yang bisa membuat Marvelous diam seperti itu.

Don hanya menghabiskan sepotong roti isi keju itu saja. Marvelous yang menghabiskan semua sandwich yang tersisa. Keduanya masih duduk dalam keheningan yang terasa semakin menyesakkan. Tak lama lagi, Don bakal butuh tabung oksigen untuk membantunya bernafas.

“Aku… aku harus kembali ke Galleon sekarang” kata Don sambil berdiri. “Terima kasih untuk sarapannya.”

“Duduklah” kata Marvelous tanpa menoleh ke arah Don. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Tiba-tiba, Don merasa intensitas detak jantungnya meningkat 10 kali lebih cepat dibandingkan sedetik sebelumnya. Ia kembali duduk di atas rumput. Celana yang dipakainya terasa basah karena terkena embun tapi itu jelas bukan masalah yang penting.

“Apakah kau masih merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi di antara aku dan Basco dulu?”

Pertanyaan tersebut mengejutkan Don. Ia terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. Tapi Marvelous masih tetap tidak melihat ke arahnya.

“Hanya jika kau ingin menceritakannya, Marvelous. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita tentang hal yang tidak ingin kau ceritakan.”

“Seandainya bisa, aku ingin mengenyahkan jauh-jauh semua ingatan ini. Tapi aku ingin kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Soal pengkhianatan Basco, pastinya kau sudah tahu.”

“Memangnya masih ada yang lain lagi?” tanya Don dengan mimik polos. Detik berikutnya, ia baru sadar kalau ia sudah salah bicara. Tapi sudah tak ada lagi hal yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan situasi.

Melihat mimik polos tersebut, Marvelous terpaksa menelan air liurnya berulang kali. Kata-kata yang hendak diucapkannya mendadak berhenti di ujung lidah dan bertumpuk di sana. Tapi sudah tidak ada jalan untuk mundur. Ia sudah terlanjur mengucapkan kalimat pembukanya. Lagipula, ia memang bermaksud jujur kepada Don. Buat apa dia capek-capek bangun pagi dan menyiapkan sarapan kalau bukan untuk menciptakan kesempatan untuk berduaan saja dengan Don? Bahkan dia sampai harus ‘memindahkan’ Gokai Galleon dari kota supaya ia bisa bicara dengan tenang di luar bersama Don.

“Kami pernah dekat dulu. Sangat dekat, malah…” Marvelous dengan jelas memberikan penekanan kepada kata ‘dekat’ yang terakhir. Don pun langsung mengerti akan ke arah mana pembicaraan ini menuju. Dalam hatinya, Marvelous mengutuki dirinya sendiri yang salah merangkai kata-kata untuk menjelaskan hubungannya dengan Basco kepada Don. Bukan begitu caranya menyampaikan hal seperti itu kepada Don.

“Ini tidak seperti yang kau bayangkan” ucap Marvelous dengan cepat. “Di antara aku dan Basco tidak ada ikatan. Kami melakukannya ketika kami membutuhkannya. Tidak ada emosi. Kami tetap bersahabat – sampai ia berkhianat, tentunya – dan kami tidak pernah membicarakannya. Kami…”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat tatapan terluka di mata Don. Inilah hal yang paling ditakutinya. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik ia tidak menceritakan masa lalu itu kepada Don. Tapi ia ingin jujur kepada Don. Ia ingin Don tahu apa yang telah terjadi di masa lalunya. Ia ingin Don menerima dirinya apa adanya meski ia membawa masa lalu yang terasa menyakitkan di punggungnya. Don berhak – dan harus – tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena masa lalu itu secara langsung mempengaruhi masa kini dan masa depannya bersama Don.

Don bangkit dari tempat duduknya. Ia membersihkan celananya dan setelah itu berjalan meninggalkan Marvelous tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia memaksakan diri untuk tidak menangis mendengar pengakuan Marvelous. Rupanya karena itulah Basco memanggil Marvelous dengan panggilan “Marvey-chan”. Ia tahu kalau keduanya adalah sahabat di masa lalu tapi ia tidak menyangka kalau hubungan keduanya seperti ‘itu’. Don kembali ke Gokai Galleon dengan perasaan galau yang menggelayuti hatinya. Sementara itu, Marvelous memandangi kepergian Don dengan pandangan nanar. Situasi ini jelas berada di luar kendalinya. Reaksi Don jelas di luar perkiraan. Masih lebih mudah menghadapi Don yang ngambek dan merajuk ketimbang Don yang hanya diam saja dan pergi tanpa mengucapkan apapun dengan ekspresi hampa.

Sekuat-kuatnya Don menahan tanggul air matanya agar tidak jebol, tetap saja ia tidak kuasa menahannya lama-lama. Ketika ia sedang melakukan pengecekan terakhir di ruang mesin, pertahanannya runtuh. Ia membiarkan air matanya mengalir membasahi pipi sementara ia dengan cepat menyelesaikan pemeriksaan atas Gokai Galleon. Ia mati-matian berusaha mengalihkan perhatian dengan berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya tapi ia gagal melakukannya dengan sempurna.

Don berpapasan dengan Marvelous ketika ia keluar dari ruang mesin. Marvelous sepertinya hendak mengucapkan sesuatu, tapi Don langsung berjalan terburu-buru meninggalkannya. Don bahkan menolak ajakan makan siang dari Ahim dan Luka. Ia berkata kalau ia terlalu mengantuk untuk duduk di meja makan. Satu-satunya hal yang terlintas di dalam benaknya adalah tidur sampai besok pagi. Dan tanpa menunggu ajakan berikutnya terlontar dari mulut Ahim, ia bergegas meninggalkan keduanya.

Setelah mandi bersih-bersih, Don membaringkan diri di atas tempat tidurnya. Ia mencoba untuk tidur tapi kata-kata pengakuan Marvelous terus terngiang-ngiang di telinganya. Ia mati-matian memejamkan mata dan mengusir kata-kata pengakuan itu jauh-jauh tapi upayanya tidak membuahkan hasil. Meski demikian, ia akhirnya ketiduran karena terlalu capek.

Don merasa jauh lega ketika ia bangun. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Ia bangun karena merasa haus. Lampu di ruang makan dan ruang duduk sudah dipadamkan ketika ia pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Setelah menghabiskan dua gelas air, ia merasakan godaan yang kuat untuk duduk sebentar di geladak. Malam itu sedikit berangin sehingga cuaca di luar terasa sejuk.

Don tertegun ketika ia melihat sosok Marvelous yang sedang berdiri di geladak sambil memandangi bulan sabit di angkasa. Meski tertutup bayangan gelap, ia tahu pasti kalau Marvelous-lah yang berdiri di sana. Don berdiri di dekat pintu sambil memandangi siluet tubuh Marvelous. Ia sadar, setelah mendengar pengakuan Marvelous tentang masa lalunya, ia masih tetap mencintai pria itu. Tidak ada yang berubah. Semua masih tetap sama.

Masa lalu adalah masa lalu. Ia mungkin membelit kami dan memberikan kenangan-kenangan yang menyakitkan kepada kami. Tapi masa lalu juga membuat kami lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Kami tumbuh bersama masa lalu dan menjadi dewasa ketika kami melepaskan diri dari jeratnya. Apa yang terjadi di masa lalu adalah bagian dari kenangan. Marvelous punya masa lalu dan begitu juga aku. Dengan menceritakan apa yang pernah terjadi di antara dirinya dan Basco, Marvelous telah ‘membebaskan diri’ dari masa lalunya. Ia telah mengubah beban di punggungnya menjadi sebuah kenangan. Ia siap untuk selangkah lebih maju dibandingkan sebelumnya. Aku tak punya alasan untuk tetap membuatnya terbelenggu pada masa lalu. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menerimanya dan masa lalunya. Dan aku ingat, ketika aku memutuskan untuk mencintainya dulu, aku juga memutuskan untuk menerima masa lalunya secara utuh. Melarikan diri dari Marvelous dan masa lalunya sama artinya dengan membuang Marvelous. Itu terlalu tidak adil bagi Marvelous dan juga diriku sendiri.

Kesadaran yang muncul di dalam hatinya tersebut membuat Don merasa kalau ia sanggup menghadapi Marvelous. Apa yang terjadi pagi tadi semata-mata adalah reaksi keterkejutannya saja. Ia tahu, ia tidak bisa membuang Marvelous dengan alasan apapun. Ia mencintai pria itu dan ia telah berjanji untuk menerima pria tersebut sebagai dirinya sendiri ketika ia membiarkan dirinya jatuh cinta pada Marvelous.

Don berjalan pelan-pelan ke arah Marvelous. Suara langkahnya membuat Marvelous menyadari kehadirannya. Pemuda yang lebih jangkung itu segera menoleh ke arah Don. Ia tampak sedikit terkejut melihat Don yang muncul secara tidak terduga.

“Hakase…” gumamnya dengan suara pelan. Hanya itu yang terucap oleh sang kapten muda.

Keduanya akhirnya berdiri berhadap-hadapan. Keduanya sama-sama diam. Marvelous-lah yang akhirnya memecahkan keheningan tersebut.

“Maafkan aku” bisiknya. “Tidak seharusnya aku…”

“Kau tidak perlu meminta maaf untuk pengakuanmu yang tadi pagi” ujar Don. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Marvelous. “Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Aku selalu penasaran dengan masa lalumu tapi aku malah melarikan diri ketika kau memberitahukannya kepadaku.”

“Itu bukan masa lalu yang mudah untuk diterima oleh semua orang.”

“Tapi itu adalah sesuatu yang tidak mungkin diubah kan? Suka atau tidak suka, itu adalah masa lalumu. Dan ketika aku memutuskan untuk mencintaimu dulu, aku juga memutuskan untuk menerima dirimu utuh bersama masa lalumu. Mengingkari masa lalumu sama dengan membuang sebagian dari dirimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Aku ingin mencintaimu secara utuh. Kau dan masa lalumu adalah satu paket yang diberikan oleh Tuhan kepadaku.”

Don berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

“Seandainya kau menganggap masa lalu tersebut sebagai beban, aku akan selalu berada di sisimu untuk memikulnya bersamamu. Kalau aku tidak bisa membantumu menghapuskan masa lalu itu, biarkan aku memikul beban yang sama agar aku bisa mengerti penderitaanmu. Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu.”

“Hakase…”

“Aku mencintaimu, Marvelous. Tidak sepantasnya aku lari darimu ketika kau memutuskan untuk jujur kepadaku. Aku yang harus meminta maaf kepadamu atas apa yang terjadi tadi pagi. Aku…”

Don tidak menyelesaikan kalimatnya karena Marvelous sudah memeluknya erat-erat. Ketegangan yang tadi pagi terasa membebani diri Marvelous sudah benar-benar terangkat sekarang. Don bisa merasakan kelegaan yang tak terkatakan dari diri Marvelous. Membayangkan Marvelous tidur dengan Basco memang terasa menyakitkan tapi itu adalah masa lalu. Ia ingin mempercayai kata-kata Marvelous tadi pagi.

Tanpa emosi. Tanpa ikatan. Apapun yang pernah terjadi di antara mereka berdua, itu adalah masa lalu. Aku butuh waktu untuk bisa melepaskan diri dari masa lalu Marvelous karena pengakuan itu turut membelengguku. Tapi aku akan terus tinggal di sisinya untuk bersama-sama melepaskan diri dari apa yang membelenggu kami berdua. Kalau kami percaya pada masa depan yang sama, kami akan tiba di masa depan yang sama.

Keduanya sama-sama tersenyum ketika Marvelous melepaskan pelukannya. Dengan menggunakan jarinya, Marvelous mengangkat dagu Don dan kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Ada semacam komitmen yang tidak diucapkan dengan kata-kata di balik ciuman itu. Don tidak membutuhkan komitmen dalam wujud kata-kata, setidaknya untuk saat ini. Ciuman Marvelous sudah lebih dari cukup untuk membuktikan apa yang dirasakan sang kapten kepadanya. Dan ia berharap kalau perasaan tersebut akan abadi.

Meski aku masih akan terus menunggu sampai kau berkata, “Aku mencintaimu…”, Marvelous. Aku akan bersabar sampai saat itu tiba. Untuk saat ini, biar aku yang terus mengucapkannya kepadamu.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: