宇宙海賊の日記

July 9, 2011

Kaizoku Sentai Gokaiger: Futari dake no Tanabata yoru

Title: Futari dake no Tanabata yoru
Fandom: Kaizoku Sentai Gokaiger
Pairing: Captain Marvelous x Don ‘Hakase’ Dogoier
Rating: G

“…dan ketika mereka hendak bertemu untuk pertama kalinya setelah dipisahkan oleh Tentei, mereka baru menyadari kalau mereka tidak bisa menyeberangi Amanogawa karena tidak ada jembatan di sana. Orihime menangis tersedu-sedu sampai akhirnya sekumpulan burung datang dan berjanji akan membuatkan jembatan dari sayap-sayap mereka sehingga ia dan Hikoboshi bisa bertemu lagi. Hujan yang turun di kala Tanabata konon berarti para burung tersebut tidak bisa datang dan Orihime serta Hikoboshi harus menunggu setahun lagi untuk bisa bertemu.”

Gai menutup ceritanya tentang Orihime dan Hikoboshi yang melatarbelakangi perayaan Tanabata. Mata Ahim berkaca-kaca mendengar cerita tersebut sementara Don dan Luka mendengarkan kisah tersebut dengan antusias. Marvelous sedang duduk terkantuk-kantuk di kursinya. Tanpa sepengetahuan siapapun, ia sebenarnya turut mendengarkan kisah tersebut. Sekilas ia sempat melirik ke arah Don yang sedari tadi memandangi Gai dengan pandangan penuh semangat. Don selalu penasaran dengan hal-hal yang belum pernah diketahuinya dan kisah tentang Orihime dan Hikoboshi tersebut jelas membangkitkan rasa penasaran di dalam dirinya. Apalagi karena topiknya adalah tentang… cinta.

“Alangkah menyedihkannya nasib mereka berdua” kata Ahim. Ia menyeka air matanya dengan sehelai saputangan berwarna merah jambu yang dihiasi renda-renda putih. “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya terpisah begitu jauh dari seseorang yang dicintai dan hanya bisa bertemu setahun sekali saja.”

“Karena itulah, sejak kecil aku selalu berharap agar hari selalu cerah di kala Tanabata sehingga Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu” kata Gai. “Waktu masih kecil, aku bahkan menggantung teru-teru bozu di luar jendela kamarku agar cuacanya cerah sepanjang hari.”

Teru-teru bozu?” tanya Don. “Apa lagi itu?”

“Itu adalah sebuah boneka buatan tangan yang terbuat dari kertas atau kain putih yang digantungkan dengan menggunakan seutas benang. Kami percaya kalau boneka itu bisa membawa cuaca cerah dan sekaligus mencegah turunnya hujan” terang Gai. “Yah, terkadang memang tidak efektif, tapi boneka-boneka itu selalu memberikan harapan kalau cuaca hari itu akan cerah dan bersahabat. Oh ya, apakah kalian tertarik untuk ikut merayakan Tanabata?”

Pertanyaan Gai tersebut membuat Ahim, Luka, dan Don serentak menatapnya dengan pandangan antusias.

“Kalian biasa merayakan Tanabata? Apa yang kalian lakukan di hari Tanabata?” tanya Ahim dengan penuh semangat.

“Ada berbagai aktivitas yang dilakukan di kala Tanabata. Ada yang diadakan di daerah pusat-pusat perbelanjaan dan ada pula yang diadakan di berbagai tempat lainnya. Aku biasa merayakannya di tempat yang letaknya di dekat kuil di kotaku. Di sana ada banyak kedai yang berjualan makanan dan tempat-tempat permainan. Selain itu, orang-orang juga menuliskan keinginan mereka di sehelai kertas kecil dan menggantungkannya di sebatang bambu yang dihiasi berbagai macam dekorasi. Batang bambu tersebut kemudian dihanyutkan di sungai atau dibakar keesokan harinya setelah Tanabata berlalu. Kami biasa mengenakan yukata pada hari itu. Kalau kalian mau, aku akan mencarikan yukata untuk kalian. Kita bisa bersama-sama merayakan Tanabata tahun ini!!”

Antusiasme Gai, tentu saja, dengan cepat menular kepada Ahim, Luka, dan Don. Dari tempat duduknya, Marvelous melirik ke arah Don dan ia tersenyum di dalam hatinya. Ia tahu apa yang akan terjadi ketika perayaan Tanabata tiba.

“MAUUUUUUUUUUU!!!” seru ketiganya.

***

Marvelous duduk di kursinya dengan tubuh yang terasa lemas dan tak bartenaga. Sudah sejak kemarin ia terserang flu yang cukup parah. Meski demikian, ia tidak ingin merusak kegembiraan rekan-rekannya. Meskipun Don dan Ahim menunjukkan rasa cemas mereka secara terang-terangan, ia berkata kalau kondisi tubuhnya tidak separah yang mereka bayangkan. Ia memaksa mereka untuk tetap turun dan merayakan Tanabata tanpa dirinya. Lagipula, ini toh hanya flu kok.

Ia sedikit terkejut ketika melihat Luka menarik tangan Gai dengan antusias dan Ahim dengan malu-malu menggandeng tangan Joe. Marvelous nyaris tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ahim dan Joe yang bersemu kemerahan.

Ternyata begitu. Dugaanku selama ini ternyata salah.

Ia selama ini menduga kalau Joe tertarik pada Luka mengingat keduanya cukup dekat satu sama lain. Apalagi karakter mereka berdua hampir sama. Karena itu, rasanya mengejutkan melihat Joe berjalan perlahan-lahan di sisi Ahim dalam balutan yukata sambil menggandeng gadis anggun itu.

Yang tidak kalah mengejutkan, tentu saja, adalah pasangan Luka dan Gai. Sejak pertama kali bertemu dengan Gai, Luka sudah beberapa kali mengatakan kalau pemuda itu menarik. Tapi ia tidak menyangka kalau hubungan keduanya sudah sedekat itu. Luka dengan penuh semangat menarik tangan Gai dan pemuda yang selalu riang itu tampaknya sangat menikmati kedekatannya dengan gadis tomboi itu.

“Kau ingin dibawakan apa untuk oleh-oleh?” tanya Luka sebelum ia dan Gai menghilang dari pandangan Marvelous. “Karena kau tidak bisa ikut bersenang-senang di bawah dengan kami, aku akan memberikanmu tiga kali lipat jatah yang biasanya.”

“Belikan aku makanan yang hangat dan manis” jawab Marvelous. “Dan tentunya jangan lupakan segala macam makanan enak yang mungkin kau temukan di bawah sana.”

“Siap” kata Luka sambil memberi hormat seperti seorang prajurit. “Ayo, Gai, nanti perayaannya keburu dimulai.”

Dan tanpa menunggu jawaban dari Gai, ia segera menarik tangan pemuda itu. Di belakangnya, Joe berjalan dengan langkah-langkah yang tidak terlalu lebar di sisi Ahim. Ia tampaknya berusaha mengimbangi langkah-langkah anggun Ahim yang mengenakan yukata berwarna merah jambu itu. Di mata Marvelous, langkah-langkah Joe tersebut terlihat sangat kikuk. Ia biasa melangkah dengan langkah-langkah yang besar dan kali ini ia ‘terpaksa’ melangkah pelan-pelan di sisi Ahim.

“Kami turun dulu, Marvelous-san” kata Ahim. Beberapa detik kemudian, ia dan Joe pun menghilang dari pandangan Marvelous.

Suasana di Galleon yang biasanya riuh rendah oleh suara-suara para krunya pun mendadak senyap. Galleon terperangkap di dalam kesunyian. Dalam kondisi normal, kesunyian ini tentu membuat Marvelous merasa tidak nyaman. Ia sudah terlalu terbiasa dengan segala macam suara berisik yang ada di Galleon. Tapi di saat sakit seperti ini, kesunyian ini terasa sangat menenangkan.

“Makan malam sudah siap, Marvelous.”

Suara tersebut mengejutkan Marvelous. Suara Don. Ia serta-merta menoleh dan melihat Don melangkah keluar dari dapur dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya tampak sebuah mangkuk yang mengepulkan asap tipis. Ia masih tetap mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hijau dengan motif kotak-kotak yang bagian lengannya dilipat dan bukannya yukata berwarna hijau yang dibawakan Gai dua hari yang lalu.

“Aku sedang menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Habiskan dulu sup ayam ini mumpung masih panas. Sebentar lagi makan malamnya siap” katanya sambil meletakkan mangkuk berisi sup di atas meja makan.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Marvelous sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Bukankah sudah kukatakan agar kau turun saja bersama mereka dan bersenang-senang di bawah sana?”

“Aku membatalkan niatku untuk turun” jawab Don. “Aku ingin menemanimu di sini saja.”

Marvelous tahu, Don sebenarnya sangat ingin turun untuk merayakan Tanabata. Selama beberapa hari terakhir, ia, Luka, dan Ahim terus membicarakan Tanabata dengan penuh semangat. Mereka bahkan sudah menentukan hendak membeli makanan di kedai-kedai yang mana saja di bawah. Tapi sekarang si pirang bodoh itu malah ada di hadapannya dengan pakaian sehari-harinya, menyiapkan makanan baginya seakan-akan perayaan Tanabata tak pernah terlintas di benaknya.

“Kau ini benar-benar bodoh” geram Marvelous. Entah kenapa, ia merasa kesal melihat Don yang memutuskan untuk tetap tinggal di Galleon dan bukannya turun ke bawah untuk bersenang-senang padahal ia jelas-jelas sudah menanti-nantikannya. “Aku tidak perlu ditemani di sini. Toh ada Navi juga kan?”

“Aku ingin merayakan Tanabata berdua denganmu di sini” kata Don. “Apakah aku salah kalau aku ingin berdua denganmu saja di Galleon?”

“Kita mungkin tidak berada di bumi lagi pada perayaan Tanabata tahun depan” kata Marvelous. “Jangan sampai kau menyesali keputusanmu untuk tidak merayakan Tanabata sekarang ketika kita sudah kembali ke luar angkasa tahun depan.”

“Orihime dan Hikoboshi diberikan kesempatan untuk bertemu setahun sekali pada hari ini. Kenapa aku harus turun kalau orang yang kuinginkan untuk berada di sampingku justru ada di sini?”

Kata-kata Don membuat Marvelous terdiam. Don menggunakan kesempatan itu untuk kembali menembakkan amunisi argumennya.

“Sama sekali tidak ada artinya bagiku untuk turun ke bawah sana tanpa dirimu, Marvelous” tambahnya.

“Sesukamu sajalah” ucap Marvelous dengan nada gusar. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Don. Kenapa si pirang bodoh itu suka sekali membuat segalanya menjadi lebih kompleks? Padahal ia cukup memikirkan kesenangan yang akan diperolehnya kalau ia turun bersama Joe dan yang lainnya.

Dengan kesal, Marvelous menghabiskan sup yang sudah disiapkan Don sementara si pirang menyiapkan makan malam mereka di dapur. Marvelous masih cemberut ketika Don menghidangkan makan malam mereka.

Don mengambil tempat duduk tepat di samping Marvelous. Ia menghabiskan makan malamnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Meski kesal, Marvelous menghabiskan makan malamnya karena ia memang merasa lapar sejak tadi. Sup ayam yang dibuatkan Don membuat ia merasa jauh lebih segar dan sekaligus membangkitkan nafsu makannya.

Selesai makan, Don membereskan meja makan dan menghidangkan kue buah untuk pencuci mulut. Sementara Marvelous menikmati pencuci mulut itu, ia menghilang ke dalam kamarnya. Marvelous mengerutkan keningnya ketika melihat Don keluar sambil membawa sebatang bambu yang sudah dihias dan beberapa helai kertas kecil.

“Ini harapanku untuk Tanabata tahun ini” katanya sambil memperlihatkan salah satu kertas tersebut kepada Marvelous. Di atas kertas berwarna hijau muda tersebut terdapat tulisan: ima koko ni aru shiawase ga itsumademo tsuzukimasu you ni. Ia lantas mengikat kertas tersebut dengan sehelai benang pada batang bambu yang dibawanya. “Kalau mau, kau boleh menuliskan keinginanmu di atas selembar kertas dan mengikatkannya di sini. Aku akan menggantungnya di kamarku dan kemudian menghanyutkannya di sungai besok pagi-pagi sekali. Biarpun kau sedang sakit, aku ingin merayakan Tanabata denganmu.”

Marvelous terharu mendengar ucapan Don itu. Dengan caranya sendiri, Don tetap ingin merayakan Tanabata bersamanya. Kalau saja Don tidak ada di hadapannya, mungkin ia akan membiarkan air matanya mengalir membasahi wajahnya. Tapi ia harus menjaga wibawanya di depan Don. Setidaknya ia masih belum ingin tertangkap basah terang-terangan menangis di hadapan si pirang bodoh pada saat ini.

“Paling-paling keinginanku hanya secepatnya memperoleh harta karun terbesar di seantero antariksa.”

“Aku akan menuliskannya di selembar kertas dan menggantungkannya untukmu kalau kau mau” ucap Don. Dan tanpa menunggu persetujuan Marvelous, ia segera menuliskan keinginan tersebut dan menggantungkannya di batang bambu yang sama.

“Dasar bodoh” bisik Marvelous pada dirinya sendiri ketika Don kembali ke kamarnya untuk menggantung bambu tersebut. Kekesalan di dalam hatinya sudah menguap dan lenyap entah kemana. Ketulusan Don membuat hatinya terasa hangat. Siapa yang menyangka kalau Don sudah menyiapkan semuanya sampai seperti itu? Pasti ia sudah mempersiapkan semuanya ketika tahu Marvelous sakit dan tidak mungkin ikut turun ke bawah bersama mereka untuk merayakan Tanabata.

Keduanya duduk di ruang duduk setelah Don membereskan piring yang ia gunakan untuk menghidangkan pencuci mulut.

“Kurasa kita jauh lebih beruntung daripada Orihime dan Hikoboshi” kata Don memulai pembicaraan santai mereka. “Aku bisa bertemu denganmu dan bicara denganmu setiap hari. Orihime dan Hikoboshi hanya bisa bertemu satu tahun sekali kalau cuaca sedang cerah. Mereka hanya punya waktu beberapa jam saja untuk melepaskan kerinduan yang terpendam selama setahun.”

“Hmmm…” gumam Marvelous.

“Aku tidak bisa membayangkan apa yang bakal kulakukan kalau aku ditempatkan pada posisi salah satu dari mereka.”

“Hmmm…”

“Kenapa dari tadi responmu hanya berupa gumaman saja?”

“Kau berharap aku bicara apa? Aku toh sedang mendengarkanmu.”

“Masa’ kau ingin aku terus yang berkicau tanpa henti seperti Navi sementara kau duduk bengong seperti itu?”

Untunglah suasana hati Navi sedang bagus sehingga ia tidak tergoda untuk membalas komentar Don tentang dirinya.

“Apa yang akan kau lakukan seandainya kau ada di posisi Hikoboshi, Marvelous?” tanya Don. “Apakah kau akan menunggu burung-burung tersebut datang setahun sekali barulah kau akan bertemu Orihime?”

“Siapa yang tahan kalau harus menunggu selama itu?” balas Marvelous. “Kalau aku jadi Hikoboshi, aku akan pergi ke tempat Orihime dengan segala cara. Peduli setan dengan Tentei dan aturannya. Aku akan berusaha memperoleh apapun yang kuinginkan meski aku harus berseberangan dengan Tentei sekalipun.”

“Dasar Marvelous” ujar Don sambil tertawa. “Kau membuat Hikoboshi terdengar seperti seorang bajak laut saja.”

“Kau menanyakan pertanyaan tersebut kepada seorang bajak laut.”

“Jadi, kalau misalnya takdir memisahkan kita di dua ujung antariksa yang paling jauh dan kita hanya bisa bertemu setahun sekali, apa yang akan kau lakukan?”

“Sudah pasti aku akan berlayar mengarungi antariksa dengan menggunakan Gokai Galleon ke tempatmu berada. Aku akan mengambilmu secara paksa dari apapun dan siapapun yang menahanmu di sana. Kau milikku dan akan selalu menjadi milikku sampai kapanpun. Aku menginginkanmu dan tidak ada yang bisa mengubahnya.”

Marvelous mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dengan suara tegas. Don tahu, ia bisa mempercayai ucapan laki-laki di sampingnya ini. Tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendengar hal seperti itu secara langsung dari Marvelous.

“Kalau begitu, aku jauh lebih beruntung daripada Orihime” katanya. “Andai saja Hikoboshi mau mencoba menempuh berbagai cara agar ia bisa bertemu Orihime kapan saja dan bukannya hanya setahun sekali.”

“Tidak akan ada perayaan Tanabata kalau kejadiannya seperti itu. Yah, itu urusan mereka berdua juga seandainya apa yang terjadi di antara mereka itu benar-benar terjadi. Tapi aku pasti tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi padaku.”

“Karena seorang bajak laut akan memperoleh semua yang ia inginkan dan ia juga tidak akan melepaskan semua yang telah diperolehnya.”

“Tepat sekali. Dan aku menginginkanmu” katanya sambil menarik Don ke arahnya. “Dari dulu sampai sekarang, keinginan ini tidak pernah padam.”

Marvelous mencium pipi Don dan setelah itu membiarkan Don menyandarkan diri pada tubuhnya. Ia mencintai Don dan fakta tersebut tak akan berubah meski si pirang bodoh itu belum mengetahuinya. Ia menginginkan Don bukan karena nafsunya, tapi karena cinta yang semakin lama semakin kuat di dalam dirinya. Seandainya takdir mencoba memisahkan mereka seperti kata Don tadi, ia akan berusaha merebutnya kembali meski ia harus mempertaruhkan nyawanya.

Karena aku mencintaimu. Karena kau diciptakan untukku. Orihime dan Hikoboshi punya cerita mereka sendiri. Aku dan kau punya cerita kita sendiri. Aku takkan membiarkan cerita ini memiliki akhir yang sama dengan kisah Orihime dan Hikoboshi atau segala macam cerita cinta yang berakhir dengan tragedi.

Malam semakin larut. Marvelous membiarkan Don tidur dengan tubuhnya sebagai sandaran. Ia tersenyum kepada Joe dan yang lainnya ketika mereka pulang. Ia tahu, mereka semua sebenarnya sadar dengan hubungannya dengan Don. Ia tak tahu sampai sebatas mana mereka tahu perasaannya kepada Don tapi itu urusannya, bukan urusan mereka. Ia memberikan tanda kepada mereka untuk tidak bersuara karena ia ingin membiarkan Don tidur sedikit lebih lama lagi di sampingnya. Keempatnya menganggukkan kepala mereka dan berjalan perlahan-lahan ke kamar masing-masing.

Terima kasih untuk malam Tanabata-mu yang menyenangkan, Don Dogoier, ucapnya dalam hati. Aku tak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. Kalau ada malam Tanabata lain setelah petualangan kita usai, aku akan menuliskan permohonan yang sama dengan permohonanmu dan kemudian menggantungnya di batang bambu yang sama.

Dan di luar sana, tampak dua buah bintang yang bersinar lebih cemerlang daripada bintang-bintang lain di sekitar mereka. Orihime dan Hikoboshi telah bertemu di malam Tanabata tahun ini…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: