宇宙海賊の日記

November 24, 2013

[fanfic][Kamen Rider Gaim][Hase/Jounouchi] untitled

Jounouchi Hideyasu mengerutkan keningnya untuk yang kesekian kalinya hari itu. Ia bolak-balik melemparkan pandangan kesal ke arah Hase Ryoji yang meringkuk di balik selimut tebalnya dan tumpukan barang yang menggunung di berbagai tempat di dalam flat Hase yang sempit. Sesekali terdengar suara bersin Hase yang memecahkan keheningan flat tersebut.

Sudah sejak dua jam yang lalu Jounouchi membersihkan flat Hase yang – demi Tuhan, Jounouchi lebih suka menyebutnya kandang hamster – berantakan dari ujung ke ujung. Pakaian kotor bertebaran di lantai – termasuk pakaian dalam Hase, tentunya – dan barang-barang berserakan di sana-sini. Itu masih ditambah dengan kotak-kotak makanan instan yang dibiarkan menumpuk di atas meja makan Hase yang hanya cukup untuk dua orang. Flat tersebut seperti habis terkena hantaman topan saja.

Tadinya ia sama sekali tidak berniat datang ke flat ini. Di hari yang cerah itu, ia lebih memilih untuk berlatih menari bersama anak-anak tim Invitto. Ia sudah memikirkan berbagai gerakan baru yang cocok untuk dimasukkan ke dalam tarian mereka. Jounouchi yakin kalau timnya bisa mengalahkan tim Gaim dan Baron dengan gerakan-gerakan tersebut. Apesnya, belum sempat ia memulai latihan, anggota tim Raid Wild menghampirinya dan memintanya pergi menjenguk Hase yang sudah tiga hari tidak muncul karena sakit.

Tentu saja, Jounouchi menolak permintaan tersebut mentah-mentah.

“Aku tidak punya waktu untuk itu” jawabnya ketus.

Anggota tim Raid Wild sama saja keras kepalanya dengan Hase. Mereka terus meminta kepada Jounouchi agar ia mau pergi menjenguk Hase.

“Kami sudah ke sana beberapa kali tapi Hase-san tidak mau membuka pintunya. Kami pikir satu-satunya orang yang bisa menemuinya adalah Jounouchi-san…”

Ketika kalimat sakti tersebut diucapkan, hati Jounouchi sedikit melunak. Belum lagi ketika gadis-gadis anggota timnya juga memintanya untuk menjenguk Hase.

Dan yang menantinya di flat Hase adalah kehororan yang membuatnya bergidik ngeri. Hase memang masih hidup tapi tumpukan sampah yang menggunung di flat tersebut langsung membuatnya naik pitam.

“Bagaimana kau mau sembuh kalau kau tidur dikelilingi sampah seperti ini?” bentaknya dengan suara menggelegar ketika Hase baru membukakan pintu untuknya. Hase tampak terkejut disemprot seperti itu.

Belum sempat Hase mempersilahkan Jounouchi untuk masuk, pemuda berambut cokelat itu langsung merangsek masuk seperti mobil panser. Dengan ujung jarinya, ia menyentuh permukaan meja makan Hase. Ada sedikit debu yang mengotori jarinya. Kekesalannya memuncak.

Ia menoleh ke arah Hase dan menatap pemuda berambut hitam yang sedang demam dan flu tersebut dengan pandangan sadis.

“Sudah makan?” tanyanya dingin.

Hase menggelengkan kepalanya.

“Aku akan memasakkan bubur untukmu. Sementara aku memasak bubur, kau duduk di sana” perintahnya sambil menunjuk meja makan Hase. “Jangan bergerak kesana kemari selama aku membereskan tempat ini.”

Dengan cekatan (ditambah wajah bersungut-sungut kesal), Jounouchi mulai memasak bubur. Sementara menunggu buburnya masak, ia mengumpulkan semua pakaian kotor Hase dan menjejalkannya secara paksa ke dalam mesin cuci mungil yang ada di dekat kamar mandi.

Buburnya matang ketika Jounouchi selesai mencuci pakaian Hase. Sementara Hase makan, Jounouchi menjemur pakaian yang baru saja dicucinya. Setelah Hase menghabiskan buburnya, Jounouchi memerintahkannya untuk berganti pakaian dan berbaring di futon yang seprainya sudah diganti.

Sambil berbaring di futon, Hase melihat bagaimana Jounouchi membersihkan flatnya dengan telaten. Meski memasang wajah kesal, Jounouchi tidak berkomentar apapun. Pemuda berambut cokelat itu memasukkan semua sampah yang ditemukannya ke dalam kantong plastik besar dan meletakkan kantong-kantong tersebut di dekat pintu masuk. Setelah itu, ia mulai menyapu.

Hase menatap flatnya dengan pandangan takjub setelah Jounouchi selesai menyapu. Flat tersebut terlihat berbeda. Dan satu-satunya tempat yang belum dijamah Jounouchi hanyalah meja kecil yang biasa digunakan Hase untuk menonton televisi dan membaca buku. Di atas meja tersebut, masih ada tumpukan buku dan majalah yang baru dibaca Hase selama beberapa hari terakhir.

“Ini yang terakhir” kata Jounouchi. Ia bergerak ke arah meja tersebut dan mulai merapikannya.

Raut wajah Jounouchi berubah ketika ia melihat buku yang diletakkan Hase di bawah tumpukan majalah. Ia menoleh dan menatap Hase dengan pandangan yang… entahlah, Hase juga tidak tahu bagaimana cara mengartikan pandangan itu. Akan tetapi, Hase segera sadar kalau Jounouchi sudah menemukan buku itu.

Ia bangkit dengan panik dari futon-nya akan tetapi Jounouchi keburu menghentikan gerakannya. Pemuda itu kini duduk di samping futon sementara Hase hanya bisa duduk memandangi futon-nya.

“Apa ini?” tanya Jounouchi dengan nada datar. Di tangannya ada sebuah buku yang judulnya How to Properly Kiss Your Girlfriend.

Hase tidak tahu harus menjawab apa. Masa’ dia harus bilang pada Jounouchi kalau dia membeli buku yang memalukan itu supaya dia bisa mencium Jounouchi dengan benar? Sudah hampir sebulan mereka berkencan dan selalu Jounouchi yang memulai ciuman. Hase sadar, ia amat kaku ketika berciuman dengan Jounouchi. Bukan karena ia tidak menyukai Jounouchi tapi karena ia tidak terbiasa mencium sesama laki-laki. Ia juga tahu, Jounouchi sedikit kecewa karena responnya yang nyaris selalu datar. Meski Jounouchi tidak menyuarakannya, ia bisa merasakannya. Karena itulah, ia nekad membeli buku yang… ya ampun, ia merasakan wajahnya memerah seperti kepiting rebus ketika mengingat buku yang kini ada di genggaman Jounouchi.

“Aku… aku hanya ingin bisa menciummu dengan benar” jawabnya jujur setelah keduanya terperangkap dalam keheningan mencekam selama hampir lima menit. “Aku juga ingin menciummu seperti kau menciumku, brengsek.”

Tawa Jounouchi meledak setelah mendengar pengakuan Hase.

“Hase-chan, kau ini sungguh menggemaskan” katanya setelah ia bersusah-payah meredakan tawanya. “Kau tak perlu buku seperti ini untuk bisa berciuman dengan piawai.”

Jounouchi memajukan tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di atas paha kekar Hase. Dengan lembut, ia menyentuhkan bibirnya ke bibir Hase. Hase memejamkan matanya, merasakan kelembutan bibir Jounouchi yang terasa memabukkan. Ia menyukai ciuman itu… tidak, ia kecanduan ciuman Jounouchi.

“Tenang saja” bisik Jounouchi setelah ia melepaskan ciumannya. “Aku akan mengajarimu selangkah demi selangkah nanti. Buat apa kau belajar dari buku sementara kau punya seorang guru yang bisa diandalkan di sini?”

Hase berani bersumpah, ia melihat kilatan jahil dan menggoda di mata Jounouchi ketika pemuda itu mengucapkan kalimat terakhirnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: